Don't quit

source: google images


Pembatasan yang diberlakukan beberapa hari terakhir, cukup menyulitkan rata-rata orang untuk beraktivitas di luar rumah, cukup membangkitkan perasaan cemas dan ketidak-nyamanan untuk sebagian orang, efek panjang yang ditimbulkan sudah terjadi selama setahun lebih. Kekacauan terjadi dimana-mana, kesusahan dan juga kepahitan sudah menjadi bayang-bayang.

Kenapa begini dan kenapa begitu, wajar saja jika timbul pertanyaan-pertanyaan seperti ini yang memang berasal dari pikiran. banyak juga yang suka berpikir liar, apa itu salah? Menurut gue tidak, sah-sah saja, mungkin akan menjadi salah jika itu sudah mulai menunjuk-nunjuk orang lain, yang memang berpotensi memicu kemarahan, ketersinggungan dan kekacauan bagi orang lainnya.

Walaupun menurut gue, ketersinggungan itu adalah diambil, bukan diberikan.

Tidak mudah juga buat gue tentunya, walaupun gue tipikal orang yang suka sekali hal sepi, menyendiri, lebih aktif di dalam pikiran, tapi tetap saja batas-batas yang terjadi dan yang memang di-setting ini membuat gue tak karuan. Ya pasti, batasan ini berasal dari eksternal bukan kemauan gue, bukan kemauan semua orang, walaupun balik lagi batasan-penoleran akan semua hal, setiap orang berbeda.

Tapi daripada terlalu larut dan terlalu lama tenggelam dari hal ini, gue selalu berusaha bangkit untuk mencari solusi apapun, sebab keinginan akan sebuah arti kebebasan (dibaca: hartu karun) memang harus diraih dengan keringat darah bercucuran, keberanian, perjuangan yang tangguh dan tekad bara-api. Hanya untuk senyuman manis dan hangat di masa depan, setiap-hari.

Tetap tenang, sebab mukjizat ada di depan mata, tetap tangguh sebab kita tidak akan tahu, jangan jangan itu adalah batu rintangan terakhir, tetap melaju karena nanti pasti akan terbiasa, sebab hanya butuh sekali 'melakukan hal' selepas itu kita sudah pernah melakukan. Hidup tidak semakin mudah, tetapi gue yang semakin kuat. 

Solusi bisa saja tidak ada di awal, bisa saja di pertengahan atau menjelang akhir, tetap percaya saja sebab gue pada dasarnya hanya manusia biasa yang memang tidak tahu akhir dari sesuatu, tapi kita bisa membentuk dengan baik masa sekarang lalu memperkirakan masa depan yang lebih baik setelahnya. Doa dan harapan selalu perlu, sebab jika kita ingin buah di atas pohon, kita perlu menariknya kuat-kuat.

Semoga yang di-semogakan bisa dipertimbangkan oleh semesta, sebab jika itu baik pasti kita diberikannya, jika kurang baik, pasti sudah dipersiapkan yang memang cocok dengan kita, paling tidak tetap berjuang dengan baik saja dahulu, berharap dengan ikhlas, berdoa dengan percaya, bertumbuh dengan nyaman walau situasi tidak nyaman supaya masih bisa ada pertimbangan.

Karena hal yang gue percayai adalah kita sejatinya itu berusaha dahulu.

Komentar

Postingan Populer