diary akhir tahun

source: google images. (vsco)


Masalah tidur masih menjadi topik utama dalam keseharian gue, gelisah karena tidak bisa tidur dan karena gelisah pula-lah yang menjadi problema tidak bisa tidur itu sendiri bagi gue, sungguh merasa dipermainkan, sungguh paradoks. Kayaknya sudah semestinya bangkit dari keterpurukan diri sendiri, melepaskan yang memang perlu dilepaskan, tetap melihat kebelakang tanpa adanya penyesalan.

Masa depan masih cerah, tidak akan ada yang berakhir gagal, jika anda menganggapnya ada berarti itu belum akhir. Selama ini sudah teori, tinggal prakteknya, mesti gue buktikan, bukan untuk orang lain tetapi buat diri sendiri. Masih muda semestinya berapi-api dan percayalah mimpi belum gue tinggalkan tetapi masih gue simpan di rak ruang wardrobe pribadi gue, akan gue buka lagi setelah berada di waktu yang tepat. 

Mungkin ada baiknya mimpi tidak menjadi realita sekarang, sebab dia masih berwujud projek dan tergolong masih baru ataupun masih akan berevolusi lagi mendatang, atau bisa jadi dia hanyalah sebuah "benda dengan kilauan terang bak permata" yang terlalu sempurna wujudnya, saking sempurnanya dia menjadi tidak cocok dengan gue, hanya cocok sebagai hiburan, tontonan dan fantasi.

Saking idealnya, dia menjadi tak tersentuh lagi, saking terangnya membuat kedua mata kita kesilauan dan jika disentuh oleh tangan, kita akan cedera karena luka bakar yang parah. Masih ada jalan lain menuju Roma, masih ada negeri Tiongkok ataupun Taiwan di Asia Timur tidak mesti ke Eropa, tapi gue ingin ke Inggris suatu hari nanti, atau ke Malta negara kecil, kepulauan di Eropa selatan yang terlalu cantik buat gue.

Paling tidak gue belajar banyak dan hikmah yang bisa diambil, lebih berharga dari mimpi yang terwujud. Sakit hati, luka robek di perasaan dan hati yang hancur itu saking hancurnya hati gue menjadi manis sekali karena sari dan intisarinya keluar semua, saking hancurnya kelak tidak bisa lagi dihancurkan oleh hal hal lain kecuali diizinkan sekali lagi oleh Semesta untuk gue belajar sesuatu yang baru dan menjadi lebih bijak lagi dari masa lalu.

Mari me-reset ulang perasaan dengan pikiran, melepas emosi-emosi di tahun ini dan melangkah ke tahun baru dengan harapan dan blessings itu sendiri. Mencoba kembali melakukan keinginan-keinginan di waktu lalu agar bisa lebih terwujud, mulai bangkit dalam diam tak perlu berisik sepertinya. Akan ada waktu dimana saatnya diri gue akan bersinar dan lepas dari belenggu penjara masa lalu.

Dengan meredupnya lampu kamar digantikan lampu tidur yang menyorot sedikit sisi ruang, dengan berakhirnya tahun 2020 yang berselimutkan "pandemi mahkota" ini. Tutup buku adalah kunci, melangkah ke seberang dan meraih elemen baru yang bernama harapan dan pikiran positif. State of mind yang baik akan bertumbuh ibarat kaktus di padang gurun.

Komentar

Postingan Populer