Penyembuhan
Source: google images.
Waktu itu, tahun baru 1985. Paman Lu seperti biasanya, di balkon apartemen miliknya dengan duduk sendirian, menghabiskan waktu petang menikmati meleburnya senja. Pandangannya begitu serius menatap jauh sembari sebatang rokok diapit oleh kedua jarinya. Yah waktu itu adalah masa-masa sulit Paman Lu, tepatnya tahun lalu. Diriku Jack, aku tinggal tepat di seberang apartemen milik Paman Lu. Aku mengenal dia sebagai sosok paman yang baik.
Dia adalah sosok yang pendiam dan serius, tetapi dia terlalu banyak menghisap rokok. Tinggal sendirian adalah mungkin penyebab dia semakin kesepian dan kurang adanya orang lain yang bisa lebih memperhatikan dirinya.
Aku bekerja di sebuah pabrik roti beberapa kilometer ke arah utara dari tempat dimana aku tinggal saat ini. Terkadang aku suka membawa beberapa bungkus berisi roti dari tempat aku bekerja dan juga seringkali membeli sekotak bento dan minuman hangat untuk paman Lu. Dia ramah padaku, seringkali dia menyuruhku bertamu ke tempat tinggalnya saat aku mengantarkan makanan kepadanya, tapi terkadang aku menolak dengan alasan ada urusan lain, tapi tak jarang aku mengiyakan jika diriku punya waktu lenggang.
Mungkin aku adalah satu satunya orang terdekat paman, menurut penilaianku dia orang baik dan sosok yang bijak, usia yang telah menginjak lima puluhan tidak pernah memadamkan semangatnya untuk menjadi pria yang mandiri. Aku tahu sedikit tentang dirinya, bahkan sebuah masalah yang hadir dalam hidupnya setahun belakangan...
Paman bekerja sebagai pengantar koran, aku suka mengobrol dengan dirinya, pengalaman yang sering dia bagikan, pengetahuan yang luas, tak jarang aku menyimpannya sebagai bekal ilmuku kelak. Tapi se-brilian apapun pemikirannya, dia kesulitan menjalani kehidupan sosialnya, sama seperti diriku, bagaimanapun dia juga seorang manusia.
Sore hari di hari minggu, pukul 04.50, aku dan paman Lu hanya terdiam di balkon, aku dengan secangkir tehku, sedangkan dia, seperti biasa... Dengan sebatang rokok yang diapit di kedua jarinya, asap dimana-mana terbawa angin ke arah kanannya. Kita mengobrol kemanapun inspirasi membawa dan mengalir jauh. Sekarang aku mulai lebih memahami yang ada di pikiran dan di hatinya, hanya kata "tangguh" yang terbesit dalam hatiku.
Aku mengenal paman Lu baru dua bulan yang lalu, seminggu setelah aku pindah ke apartemen milikku saat ini. Perkenalan kita dimulai saat aku terlibat obrolan tak sengaja dengannya saat mengantre pesanan kopi di kedai minuman dekat dengan blok apartemen tempat dimana aku tinggal, pagi hari disaat aku mau berangkat kerja.
Tapi memang, sebelum beberapa hari tersebut, aku sering mengamati beliau duduk di balkon yang sama dan tanpa sengaja telah mendapatkan perhatianku jikalau disana memang ada orang yang sama dan sudah beberapa hari di waktu yang sama pula, saat aku sedang mengamati blok apartemen di seberangku itu.
Kembali ke momen semula...
Kami sesekali bicara, terkadang sebuah candaan, terkadang juga nasehat beliau kepadaku. Tapi sampailah pula di momen dimana dia mulai mencurahkan luaran isi hatinya, sebuah masalah yang ternyata memang eksis di realita kehidupan manusia, aku dengan cangkir teh hangat, sesekali menyesap teh dan tetap kembali pada fokus memperhatikan beliau bercerita.
Derita memang kelabu, harapan adalah abu-abu. Aku mulai mencoba menalarkan segalanya, aku mulai memahami dirinya, alasan dia selalu berdiam diri, alasan dia begitu tertutup pada manusia lain, alasan dia memiliki ciri khas yang aku anggap sebagai "ketenangan diri" yang berbeda dan mungkin alasan kenapa selalu ada sebatang rokok yang menemaninya.
Mulai saat itu hubungan kita semakin baik lagi dari hari sebelumnya, sudah seperti orang sendiri, seperti paman dan keponakan, seperti guru dan murid, seperti kerabat dan saling menguatkan.
Aku kagum dan terinspirasi pada paman.
Aku belajar banyak dari dia, kesabaran, ilmu hidup, mungkin mulai memahami apa sebenarnya "takdir" itu sendiri, apa makna tentang menjadi manusia.
"Anda, aku rasa terlalu banyak merokok." -celetukku seolah-olah membelah angin dan waktu di sekitar diriku.
"Kurangi satu per hari saja sepertinya tak masalah, demi kesehatan anda." -timpalku lagi.
"Kenapa paman?" -sekali lagi, tapi aku yakin dia memahamiku.
.
..
...
....
.....
Beberapa keheningan hanya dibalas paman dengan dia yang menyelipkan sebatang rokok ke bibir lalu memantikkan korek api di ujung rokok, dengan gestur yang aku menyebutnya sebuah ketenangan yang khas dirinya.
Kemudian dia menjawabnya setelah melepaskan asap ke udara.
"Aku tidak menghisap sebatang rokok..." -paman Lu mulai menjawab.
"Yang aku hisap adalah kesepian dan rasa sedih yang aku hargai karena telah hadir kedalam hidupku." -paman Lu melanjutnya.
"Yang aku hisap adalah untuk derita." -paman mencoba menjawabku.
-
-
"Diriku hanya ingin menghargai masa lalu, mengapresiasi kekalahanku dalam menjalani hidup yang pernah ada, yang dahulu semakin aku kabur darinya semakin tersesat diriku, semua hal mengagumkan yang kau lihat dariku adalah hasil luka yang memang aku terima, pengalaman dan juga hal-hal yang terjadi dalam hidup yang memang diriku ingin anggap sebagai hal indah lainnya. Aku juga manusia biasa, kau tahu?" -paman menjawab hal ini dengan senyum kecil dan terasa tulus, setulus yang pernah aku saksikan sendiri.
.
.
"Aku belajar banyak, Jack, sabar yang aku punya adalah karena keistimewaan takdir. Aku hanya manusia yang tidak menyerah tapi juga tidak ingin memaksakan kehendak, aku ingin menjadi manusia seutuhnya." -setelah ini, kita sempat berdiam sejenak sembari menikmati sore yang beberapa saat lagi akan melebur jadi malam.
Aku begitu menghargai momen disaat ini, lebih dari biasanya, sewaktu diriku mengobrol dengan paman Lu di waktu-waktu yang lalu. Energi dari perasaan patah hati yang kuat tapi entah kenapa begitu nyaman dan sejuk dirasakan hati, sebuah perasaan kalah yang sudah mendapat penerimaan oleh diri sendiri, bayangan dalam perasaanku yang seolah-olah jika paman merefleksikan diri dan menoleh ke belakang, tidak akan ada penyesalan lagi...
.
..
...
"Oh iya, kemarin adalah hari kelahiranku, Jack." -paman berucap memecah imajinasi milikku yang masih terlarut.
Aku menatapnya sebentar.
"Selamat ulang tahun, paman Lu." -ucapku...
sembari mengambil sebatang rokok di bungkusan rokok paman, membakar ujungnya dengan korek, aku hisap dan menghembuskannya...
Aku menghargai paman sebagai seorang manusia seutuhnya, salah satu yang pernah ada. Layaknya bunga Matahari pagi menjelang malam dan malam jugalah yang akan menemani dirinya, oleh gemintang gemintang di langit sana...
#phonediary

Komentar
Posting Komentar