Sebuah makna terdalam dari rasa nyaman
Pesta demokrasi pemilu sebentar lagi, sungguh-sungguh sebentar lagi. Akan tetapi, apakah kita sebagai warga negara sudah benar-benar merasakan demokrasi itu sendiri? Atau paling tidak sudah mengerti dan sudah dewasakah kita terhadap demokrasi? Atau jangan jangan kita masih buta hati dan pikiran dalam menjalani demokrasi?
Gue mungkin bukan orang yang ahli dalam bidang ini. Namun, yang membuat gue mau untuk bertahan dan berhubungan kepada lingkaran politik seperti ini karena gue cinta dan gue peduli diri sendiri dan sekitar gue, gue tidaklah ahli namun gue selalu belajar lebih dan lebih lagi. Peduli ini yang membuat bertahan dari sakit dan panasnya lingkaran setan ini.
Dulu gue pernah sesumbar berkata gue benci politik, gue anti-politik, politik terlalu kejam, mindset yang ibaratnya akan kekal, namun, ternyata gue tidak bisa, banyak hal yang terlalu terikat dan membuat gue terpaksa merasakan kesakitan ini demi semuanya lebih baik lagi. Mindset yang dibuat tekuk-lutut oleh dunia politik ini. Hanya politik yang bisa.
Ingin gue jelaskan sedikit, tidak mungkin gue bilang tidak peduli politik, karena tidak peduli politik maka tidak peduli diri sendiri, politik itu ibarat kata lain dari kenyamanan diri sendiri, kenyamanan diri sendiri ataupun sekitar. Itulah kadangkala kenyamanan akan didapat meski dengan cara picik, licik.
Semua gerak-gerik kita, cara kita melakukan sesuatu ataupun timbulnya kebiasaan-kebiasaan sehari-hari kita itu biasanya berhubungan erat dengan politik, entah karena sesuatu ataupun dari diri sendiri. Kenyamanan yang diperlukan, apalagi dalam dunia sosial terhadap orang rumah, tetangga sampai kepada tukang ojek depan jembatan rumah atau bisa juga " tujuan gue yang menulis di blog ini".
Gue mulai melek politik atau ingin melek politik kira-kira dua tahun lalu karena sebuah kejadian yang seperti membolak-balikan gue dan tanpa sadar, mau tidak mau gue seperti perlu sadar pada hal ini, kejadian yang hampir merubah setengah dari jiwa gue. Luka yang tercipta, syukur maupun tidak mensyukuri sudah tidak ada bedanya lagi bung!
Setelah kejadian yang membuat gue melek politik ini, tubuh, pikiran dan nurani (emang politik pakai nurani?, oof) gue seperti ter-settings sendirinya dalam menanggapi suatu kejadian maupun tujuan, gue seperti dengan sendirinya bisa terbuka dan se-bebas itu membuka sebuah perspektif lebih luas untuk sebuah sudut pandang. Gue sempat rusak (mungkin masih rusak) karena kejam ini, sungguh kejam politik itu.
Gue sedikit miris dan seperti tanpa harapan melihat yang ada di sekitar gue, bungkam saling bungkam, sensitif semakin tinggi, semua yang dilakukan sudah seperti di bawah tekanan, sulit untuk mengutarakan suara. Tak ada lagi kepekaan, semua lebih utamakan ego dan emosi bodoh yang akhirnya melukai, main hakim sendiri dan seperti tak ada lagi persaudaraan.
Melihat kejadian akhir-akhir ini membuat gue seperti orang yang paranoid. Semakin gue lebih mengerti politik malah membuat gue seperti tak berani berdiri mandiri dalam kebebasan. Gue yang terbiasa lebih melihat dalam jauh dan menyimak membuat gue ter-settings sendirinya dan yang ada gue menjadi belajar dari sana.
Semakin gue mengerti, semakin gue merasa gelap dan kelam se-begitu kelamnya. Kejadian yang semula baik-baik saja semakin kelihatan mengerikan. Fanatik berlebihan, menghalalkan segala cara, gelapkan pikiran sesama tanpa merasa berdosa yang paling parah.
Pesta demokrasi tinggal kurang lebih seminggu lagi, gue doakan yang terbaik, masyarakat lebih cerdas memilih, berbeda pilihan tak membuat saling membenci dan gelap mata, jangan memilih untuk bodoh dan tak ada lagi hati nurani. Kita satu negara, satu ibu pertiwi, gue yakin masih ada kasih nurani di dalam hati kita.


Komentar
Posting Komentar