Hati yang telah mengutarakan hak nya.
Gue pasti melangkah ke depan, paling tidak gue ingin melangkah ke depan, pasti ingin. Masalah yang selalu saja menghampiri adalah normal jika kita sangkut-pautkan dalam kehidupan, masalah juga adalah bagian dari hidup. Namun jika masalah itu selalu saja sama dan kita mulai menyadari kita tak pernah keluar dari masalah yang itu-itu saja dan kita juga tak berkembang, terus bagaimana?
Gue dan masalah yang ingin gue curahkan adalah artian yang mungkin tak mainstream dan kemungkinan besar sukar dipahami karena untuk ini gue tidak tahu bagaimana membuat penjelasan ini menjadi sesuatu yang sederhana.
Jikapun kelak ada pembaca yang merasa sulit untuk mengerti, it's ok, mungkin yang paling penting menurut gue sekarang adalah gue merasa lebih baik, gue ringan menjalani hari-hari kembali.
Pagi berganti siang, siang menjadi senja dan akhirnya malam. Gue yang sekarang adalah hasil kejadian dari masa lalu entah itu baik ataupun kurang baik. Gue anti-sosial ataupun introvert person garis keras entah apapun gue menganggap diri gue sendiri pada akhirnya kembali lagi pada opini orang lain.
Gue dan orang lain pasti berbeda, gue tak mau menganggap apa yang telah gue alami itu lebih perih dari orang lain. Kisah dari beberapa saat-saat dulu (tak begitu lama juga) tentang satu kejadian kepada satu kejadian lainnya yang cukup merubah alur cerita hidup dan pendeknya, waktu berlalu singkat, gue adalah refleksi dari sebuah kejadian yang telah terjadi itu satu sosok yang lain, yang baru, begitu juga dengan hal baik dan hal kurang baik yang mengikutinya.
Gue mungkin lebih dewasa dari sebelum-sebelumnya, yah tentu, gue telah belajar sesuatu dan juga membuat gue punya subjektif yang baru lagi, lebih mengerti sebuah cruelty yang sedikit membuat gue sesat. Dan kurang baiknya, gue begitu merasa sakit, semua yang mau gue speak-up-in dan juga segala sesuatunya malah membuat gue seperti hanya seorang yang banyak mengeluh, seolah mengapa tidak mau tahu dalamnya?
Gue menjadi berpikiran terlalu berlebihan, gue menatap semua seperti begitu pesimis. Tapi gue juga adalah orang yang selalu ingin mencari tahu dan mencari sebuah jalan keluar.
"satu langkah yang keliru adalah semakin dekat bertemu dengan jalan yang benar" -begitulah.
Namun akhir-akhir ini, sekitaran pergantian tahun. Gue telah berhasil menemukan berkali-kali jalan yang keliru dan membuat gue menemukan jalan yang lebih baik lagi. Namun memang tak mudah, hal positif tak melulu adalah mutlak menjadi hal yang "positif" tersebut, kembali lagi pada sudut pandang tertentu dan pada sebuah kisah dan kejadian, dan itu rumit.
Well, kita singkatkan waktu menuju saat-saat ini. Gue yang berusaha melakukan hal-hal yang terbaik untuk diri sendiri, berpikiran untuk bergerak maju, kembali mencoba hal yang gue sukai walaupun ada hal yang tetap tak bisa gue lakukan walaupun itu adalah sebuah gairah, gue juga berusaha berkembang dalam kebiasaan baik yang mungkin memang adalah seharusnya.
Tapi yang ada gue semakin hampa, jadi kelihatan terlalu memaksakan segalanya, sebuah kesakitan yang gue tutup-tutupi, walaupun itu terkadang terlihat tak semestinya menjadi masalah (and in other way, it's sucks!) dan semua ini seperti hanya berputar-putar dalam satu trek dan tak kemana-mana, malah membuat gue telah kehilangan diri gue sendiri dan dari semua kejadian ini, gue menyadari ini hanya substitusi bagi rasa sakit dan sebuah penolakan.
Salah satu hal yang membuat gue sadar jikalau gue telah membohongi dan berlaku jauh tidak menjadi diri sendiri adalah bahwa gue yang masih enggan melakukan sesuatu yang seharusnya memang menjadi hobi gue dan gairah gue (gairah telah redup), walaupun itu berhubungan dengan psikologi dan depresi and i knew it, tapi kali ini gue tak ingin membahas seputar depresi dan lainnya dulu.
Sejauh gue ingin membawa diri untuk melaju dan menghadapi segalanya, semakin gue ditarik kembali untuk merasakan keterpurukan dan itu tidak selalu tentang bisa atau tidak bisa menghadapi dan melewati batas, batas tetaplah batas dan hargai itu. Juga bukan gue yang tak mau menerima yang gue ingin tolak ataupun menolak "masukan" yang ada, gue tidak begitu juga dan jangan mematikan sebuah langkah dengan hal yang sebegitu kejamnya.
Mungkin gue yang ingin melaju dan apa yang ingin gue raih adalah masih sesuatu di balik cermin, belum bisa kita raih, masih ada suatu urusan yang belum selesai, ada alam bawah sadar yang perlu jawaban dan kesukaran yang terjadi bisa saja adalah sebenarnya buntut panjang yang memang itu-itu saja selama ini karena ada rantai yang mengikat diri dan membuat kita tertahan.
Singkatnya, mungkin saat ini bukan waktunya mencari hal lainnya, dan mungkin saat ini adalah waktu buat gue menemukan diri gue sendiri. Pada akhirnya, untuk semuanya lagi, gue semestinya menemukan diri gue sendiri dahulu.
Don't judge too quickly
don't judge too quickly... ini adalah sesuatu yang selalu menjadi perhatian gue, menganalisa nya dan juga selalu menerapkannya dengan tertarik pada saat gue menjalani dunia sosial gue. Sesuatu yang juga sangat manipulatif, pada akhirnya menjadi sebuah buah pikir kedua, hmm.. hanyalah opini gue sendiri soal buah pikir kedua karena gue terbiasa mengulas balik sesuatu yang telah terjadi.
DJTQ memang dekat dengan gue, namun gue juga tak jarang menjadi terlalu serius menanggapinya dan gue akan merasa tertekan olehnya, jangan dibawa serius, itu hanya bagian dari kebiasaan gue saja.
Mengapa bisa sampai tertekan begitu? Bukan tanpa maksud, gue melakukan sembari belajar dari sesuatu yang telah terjadi tersebut.
Yang seharusnya dibahas adalah mengapa gue menganggap itu begitu penting, karena gue seperti sudah ter-settings dengan sendirinya, selalu ingin berkembang lebih baik lagi (paling tidak menurut gue) dan Don't judge too quickly (DJTQ) adalah biasanya yang paling dekat dengan gue ataupun manusia lain dalam kehidupan sehari-hari
Gue tak ingin mengarahkan DJTQ kepada sisi yang baik atau sisi yang buruk. Karena gue memahami kegiatan judge tak bisa dihindarkan pada saat kita bersosialisasi dan juga tak bisa disalahkan.
Hanya memang dari gue sendiri yang suka untuk bisa berdialog dan tertarik pada opini yang baru dan pilihan ataupun pendapat bebas dari orang-orang lain asal itu adalah sesuatu yang bisa dipertanggungjawabkan olehnya, walaupun sadar tanpa sadar gue juga bisa kok berada dalam sisi judge malahan sering, tapi kadangkala tetap harus mengontrolnya agar lebih baik dalam pikiran gue.
Karena gue percaya, sesuatu hal dan pilihan pilihan yang terjadi pasti punya alasan tersendiri sehingga bisa muncul ke permukaan dari orang lain dan patut dihargai, sependapat ataupun tidak sependapat, gue akan mengerti dan gue menerimanya.
Karena ini adalah sesuatu yang penting, sebab ini juga bagian dari kebebasan berpendapat dan kebebasan berekspresi, terbuka seluas-luasnya dan ingin mendengar apa yang telah terjadi dan ini akan membuat kita terbiasa untuk memahami dan mengerti.
Jangan menilai terlalu cepat sebab kemungkinan nantinya kita bisa menjadi salah paham,
Dan anehnya jika kita mengetik don't judge too quickly ataupun jangan menilai terlalu cepat mengapa itu selalu mengarah ke sisi yang dianggap tak baik notabene lebih sempit, padahal Don't judge too quickly tak seharusnya hanya itu saja, bukankah itu berarti telah Don't judge too quickly too? Ataupun memang seperti itu seharusnya?
Objektif dan Subjektif
Dan kini objektif dan subjektif, dua hal yang tak asing buat gue, dan menarik untuk gue telisik dan mencoba untuk membedah.
Objektif, sesuatu yang harus sesuai fakta dan tak bisa sesuai pandangan pribadi dan pengalaman dari diri sendiri. Sedangkan subjektif adalah sesuatu yang dinilai dari rasa perasaan dan pandangan dari diri sendiri.
Pada kehidupan zaman sekarang apalagi dalam sosial, gue mesti harus bisa membedakan dengan benar mana yang seharusnya objektif dan mana seharus subjektif.
Dan bagi gue yang introvert mungkin gue lebih menggunakan sisi subjektif, tapi tenang, gue bersikap begitu bukan disaat menentukan hal yang berurusan dengan fakta, data ataupun saat bersama orang lain, i hope so. Kali ini adalah tentang gue dan dunia gue.
Gue introvert dan secara garis besar gue menghabiskan waktu gue sungguh sendirian dan gue menikmatinya, point of view gue dan indera perasa gue pasti sangatlah dekat dalam kesehariannya gue, gue benar benar suka pada dunia yang begituan yang subjektif yang feeling dan punya cerita dan sudut pandang tersendirinya
Itu alasan gue suka sekali pada dunia seni karena biasanya seni bergantung besar pada nilai yang sungguh subjektif. Hal yang menyenangkan sekali buat gue, bermain dalam dunia imajiner dan bermain-main dalam state of mind ini. Dunia foto, gue suka foto tapi gue tidaklah ahli, gue memfoto hanya untuk mengabadikan apa yang gue lihat dan suka supaya gue bisa selalu menikmatinya walaupun tidak seratus persen sama dan presisi.
Gue dan imajinasi gue dan gue terlalu into it dalam dunia yang terbiasa bermain dalam hal yang subjektif ini, entah sejak kapan tapi yang gue rasakan hal ini telah dimulai dari saat gue kecil dahulu, dan ini bukan hanya soal dunia imajinasi seni subjektif biasa tapi gue merasa ada yang berbeda, ada sesuatu yang spesial dalam hal ini.
Kali ini sebenarnya gue akan banyak membahas soal sisi yang subjektif ini, karena gue akan menceritakan tentang gue, hal yang gue suka, sesekali it's ok to put yourself first kan? Karena gue butuh rasa tenang dan penyembuhan dengan mencurahkan sisi gue yang lain dan melekat dengan begitu sempurnanya sampai saat ini
Dahulu teman asing gue pernah berkata dan membuat gue sampai harus memikirkannya sekali lagi untuk menelisik sangkin bagusnya, "Sesuatu yang anda mengerti adalah disebut teknik sedangkan sesuatu yang tidak anda mengerti adalah seni". Sempat antara mengerti dan tak mengerti awalnya tapi juga karena awalnya gue harus menganalisa dan mengkupasnya lebih jauh, tapi itu cukup bagus.
Dunia seni, fotografi bahkan seribu kisah tentang senja sekalipun begitu menyenangkan buat gue seperti mengutarakan sebuah perspektif dan sudut pandang, bahkan cerita simpel dari orang-orang akan bisa gue kupas dan membawanya sambil berlarian di taman impian imajinasi gue, gue sesuka dan senyaman itu dengan seni yang se-subjektif itu.
Tapi gue juga bisa untuk mengerti untuk menggunakan sisi yang objektif pada saat itu diperlukan dan mungkin kadang terlalu straight into it, dan begitulah mungkin seharusnya.
Sebuah pondasi yang kokoh
Gue bukan orang yang hebat, tapi gue adalah orang yang suka dan bergairah untuk mengembangkan diri sendiri, walaupun apa yang gue alami sekarang terkadang menahan untuk melaju dan lain sebagainya, gue pada dasarnya senang dan bergairah untuk terpacu selalu dalam berkembang.
Gue tak malu jika kelihatan kurang, karena memang begitulah adanya, gue tak malu belajar pada orang yang mungkin umurnya dibawah gue, gue sadarnya tak apa jika harus salah dan salah lagi, maka gue akan mengulanginya sampai tahu benarnya, karena yang gue tahu gue butuh sebuah pondasi yang kokoh
Gue seperti tergila-gila dengan mengembangkan diri sendiri, karena mungkin hanya itu yang bisa gue lakukan, tapi asal jangan jauh-jauh dari hal yang berbau seni, karena walaupun begitu gue kurang nyaman dengan hal yang berbau monoton. Tapi dengan begitupun, gue tak akan menganggap itu harus mutlak karena itu sungguh malah membuat gue merasa tertekan.
Kelelahan adalah bagian dari proses dalam sebuah pengerjaan pondasi yang kokoh, jangan begitu menjebak dan membuat perasaan jadi ketakutan karena menilai terlalu cepat, biarkan mengalir dan semua akan baik-baik saja, hargai lelahmu dan nikmati secangkir teh di ruang tamu yang sepi dengan radio musik yang menyala.
Maksudnya adalah, gue ada kata kata yang telah terucap tapi semua hal lain yang akan terjadi juga adalah bagian dari proses berpikir, jalan hidup dan gue juga perlu merasa kenyamanan dan ketenangan untuk berteduh sejenak karena pondasi kokoh akan lebih baik dibarengi kesehatan mental yang baik.
Mengalir seperti air
Bruce lee pernah berucap seperti ini "Jadilah seperti air yang membuat jalan melalui retakan. Jangan terlalu tegas, tetapi sesuaikan dengan objeknya, dan Anda akan menemukan jalan memutar atau melaluinya. Jika tidak ada sesuatu pun di dalam Anda yang tetap kaku, hal-hal lahiriah akan terungkap. Kosongkan pikiran Anda, jadilah fleksibel. Tidak berbentuk, seperti air. Jika Anda memasukkan air ke dalam cangkir, air itu mengikuti bentuk cangkir. Anda memasukkan air ke dalam botol dan air itu mengikuti bentuk menjadi botol. Anda menaruhnya di teko, air itu mengikuti bentuk menjadi teko. Jadi, air bisa saja mengalir atau mengalami kemacetan (tidak dapat mengalir). Jadilah air, temanku."
Gue tertarik dan memang terinspirasi dari beliau namun memang tak mudah karena ini semua tentang pemusnahan ego dalam diri manusia, gue yang juga mengadaptasi konsep filosofi Yin dan yang sesuatu yang erat dengan keseimbangan sebagai pandangan hidup ataupun menjadi prinsip, ego adalah monster yang sulit untuk dikendalikan.
Gue terus belajar dan perlahan mengikuti jejak ini karena ini akan membuat kita bisa mengontrol diri dari ego yang bisa begitu menghanyutkan, gue yang masih muda itu juga berarti ego dalam diri yang sangat menggebu harus gue perlahan melatihnya, seberat apapun dan menahan sakit sebagaimanapun dan terus belajar untuk menjadi sosok yang berbesar hati.
Gue perlu melatih terus, gue tertarik menerapkan konsep ini mungkin karena dulunya gue adalah murid dari sebuah perguruan Buddhis yang terbiasa mengajarkan tentang pelepasan keduniawi-an dan juga meredam sifat ego dan belajar akan sebuah makna cinta kasih.
Gue memang sosok yang kaku dan mudah tak tenang menjalani hidup, terkadang juga adalah sosok yang emosional, sudah semestinya gue melatih diri dengan konsep mengalir seperti air itu, fleksibel dan sedikit tak terikat keduniawi-an itu, belajar rendah hati dan meredam ego yang menyesatkan.
Mengalir seperti air dan hidup dengan ego sedikit menurut gue membuat gue tertarik sebenarnya sebab dengan begitu kita akan menjalani hidup dengan lebih tenang dan menghargai apa yang ada dan terus bersyukur, mungkin banyak hal positif yang terkandung, namun yang tak muluk-muluk sajalah, hidup lebih tenang saja sudah cukup bagi gue.
Ingin selalu bisa bersyukur dan punya hati yang luas dalam menjalani hidup ini, agar juga hidup lebih rileks dan benar, mengalir seperti air, dengan begitu tekanan lebih berkurang, dan bisa lebih melihat dunia lebih-lebih luas lagi dan tak lagi dengan bayang-bayang sisi yang gelap tentang semesta ini. :)
God Bless Us
Well, kita singkatkan waktu menuju saat-saat ini. Gue yang berusaha melakukan hal-hal yang terbaik untuk diri sendiri, berpikiran untuk bergerak maju, kembali mencoba hal yang gue sukai walaupun ada hal yang tetap tak bisa gue lakukan walaupun itu adalah sebuah gairah, gue juga berusaha berkembang dalam kebiasaan baik yang mungkin memang adalah seharusnya.
Tapi yang ada gue semakin hampa, jadi kelihatan terlalu memaksakan segalanya, sebuah kesakitan yang gue tutup-tutupi, walaupun itu terkadang terlihat tak semestinya menjadi masalah (and in other way, it's sucks!) dan semua ini seperti hanya berputar-putar dalam satu trek dan tak kemana-mana, malah membuat gue telah kehilangan diri gue sendiri dan dari semua kejadian ini, gue menyadari ini hanya substitusi bagi rasa sakit dan sebuah penolakan.
Salah satu hal yang membuat gue sadar jikalau gue telah membohongi dan berlaku jauh tidak menjadi diri sendiri adalah bahwa gue yang masih enggan melakukan sesuatu yang seharusnya memang menjadi hobi gue dan gairah gue (gairah telah redup), walaupun itu berhubungan dengan psikologi dan depresi and i knew it, tapi kali ini gue tak ingin membahas seputar depresi dan lainnya dulu.
Sejauh gue ingin membawa diri untuk melaju dan menghadapi segalanya, semakin gue ditarik kembali untuk merasakan keterpurukan dan itu tidak selalu tentang bisa atau tidak bisa menghadapi dan melewati batas, batas tetaplah batas dan hargai itu. Juga bukan gue yang tak mau menerima yang gue ingin tolak ataupun menolak "masukan" yang ada, gue tidak begitu juga dan jangan mematikan sebuah langkah dengan hal yang sebegitu kejamnya.
Mungkin gue yang ingin melaju dan apa yang ingin gue raih adalah masih sesuatu di balik cermin, belum bisa kita raih, masih ada suatu urusan yang belum selesai, ada alam bawah sadar yang perlu jawaban dan kesukaran yang terjadi bisa saja adalah sebenarnya buntut panjang yang memang itu-itu saja selama ini karena ada rantai yang mengikat diri dan membuat kita tertahan.
Singkatnya, mungkin saat ini bukan waktunya mencari hal lainnya, dan mungkin saat ini adalah waktu buat gue menemukan diri gue sendiri. Pada akhirnya, untuk semuanya lagi, gue semestinya menemukan diri gue sendiri dahulu.
Don't judge too quickly
source: google images
don't judge too quickly... ini adalah sesuatu yang selalu menjadi perhatian gue, menganalisa nya dan juga selalu menerapkannya dengan tertarik pada saat gue menjalani dunia sosial gue. Sesuatu yang juga sangat manipulatif, pada akhirnya menjadi sebuah buah pikir kedua, hmm.. hanyalah opini gue sendiri soal buah pikir kedua karena gue terbiasa mengulas balik sesuatu yang telah terjadi.
DJTQ memang dekat dengan gue, namun gue juga tak jarang menjadi terlalu serius menanggapinya dan gue akan merasa tertekan olehnya, jangan dibawa serius, itu hanya bagian dari kebiasaan gue saja.
Mengapa bisa sampai tertekan begitu? Bukan tanpa maksud, gue melakukan sembari belajar dari sesuatu yang telah terjadi tersebut.
Yang seharusnya dibahas adalah mengapa gue menganggap itu begitu penting, karena gue seperti sudah ter-settings dengan sendirinya, selalu ingin berkembang lebih baik lagi (paling tidak menurut gue) dan Don't judge too quickly (DJTQ) adalah biasanya yang paling dekat dengan gue ataupun manusia lain dalam kehidupan sehari-hari
Gue tak ingin mengarahkan DJTQ kepada sisi yang baik atau sisi yang buruk. Karena gue memahami kegiatan judge tak bisa dihindarkan pada saat kita bersosialisasi dan juga tak bisa disalahkan.
Hanya memang dari gue sendiri yang suka untuk bisa berdialog dan tertarik pada opini yang baru dan pilihan ataupun pendapat bebas dari orang-orang lain asal itu adalah sesuatu yang bisa dipertanggungjawabkan olehnya, walaupun sadar tanpa sadar gue juga bisa kok berada dalam sisi judge malahan sering, tapi kadangkala tetap harus mengontrolnya agar lebih baik dalam pikiran gue.
Karena gue percaya, sesuatu hal dan pilihan pilihan yang terjadi pasti punya alasan tersendiri sehingga bisa muncul ke permukaan dari orang lain dan patut dihargai, sependapat ataupun tidak sependapat, gue akan mengerti dan gue menerimanya.
Karena ini adalah sesuatu yang penting, sebab ini juga bagian dari kebebasan berpendapat dan kebebasan berekspresi, terbuka seluas-luasnya dan ingin mendengar apa yang telah terjadi dan ini akan membuat kita terbiasa untuk memahami dan mengerti.
Jangan menilai terlalu cepat sebab kemungkinan nantinya kita bisa menjadi salah paham,
Dan anehnya jika kita mengetik don't judge too quickly ataupun jangan menilai terlalu cepat mengapa itu selalu mengarah ke sisi yang dianggap tak baik notabene lebih sempit, padahal Don't judge too quickly tak seharusnya hanya itu saja, bukankah itu berarti telah Don't judge too quickly too? Ataupun memang seperti itu seharusnya?
Objektif dan Subjektif
source: google images
Objektif, sesuatu yang harus sesuai fakta dan tak bisa sesuai pandangan pribadi dan pengalaman dari diri sendiri. Sedangkan subjektif adalah sesuatu yang dinilai dari rasa perasaan dan pandangan dari diri sendiri.
Pada kehidupan zaman sekarang apalagi dalam sosial, gue mesti harus bisa membedakan dengan benar mana yang seharusnya objektif dan mana seharus subjektif.
Dan bagi gue yang introvert mungkin gue lebih menggunakan sisi subjektif, tapi tenang, gue bersikap begitu bukan disaat menentukan hal yang berurusan dengan fakta, data ataupun saat bersama orang lain, i hope so. Kali ini adalah tentang gue dan dunia gue.
Gue introvert dan secara garis besar gue menghabiskan waktu gue sungguh sendirian dan gue menikmatinya, point of view gue dan indera perasa gue pasti sangatlah dekat dalam kesehariannya gue, gue benar benar suka pada dunia yang begituan yang subjektif yang feeling dan punya cerita dan sudut pandang tersendirinya
Itu alasan gue suka sekali pada dunia seni karena biasanya seni bergantung besar pada nilai yang sungguh subjektif. Hal yang menyenangkan sekali buat gue, bermain dalam dunia imajiner dan bermain-main dalam state of mind ini. Dunia foto, gue suka foto tapi gue tidaklah ahli, gue memfoto hanya untuk mengabadikan apa yang gue lihat dan suka supaya gue bisa selalu menikmatinya walaupun tidak seratus persen sama dan presisi.
Gue dan imajinasi gue dan gue terlalu into it dalam dunia yang terbiasa bermain dalam hal yang subjektif ini, entah sejak kapan tapi yang gue rasakan hal ini telah dimulai dari saat gue kecil dahulu, dan ini bukan hanya soal dunia imajinasi seni subjektif biasa tapi gue merasa ada yang berbeda, ada sesuatu yang spesial dalam hal ini.
Kali ini sebenarnya gue akan banyak membahas soal sisi yang subjektif ini, karena gue akan menceritakan tentang gue, hal yang gue suka, sesekali it's ok to put yourself first kan? Karena gue butuh rasa tenang dan penyembuhan dengan mencurahkan sisi gue yang lain dan melekat dengan begitu sempurnanya sampai saat ini
Dahulu teman asing gue pernah berkata dan membuat gue sampai harus memikirkannya sekali lagi untuk menelisik sangkin bagusnya, "Sesuatu yang anda mengerti adalah disebut teknik sedangkan sesuatu yang tidak anda mengerti adalah seni". Sempat antara mengerti dan tak mengerti awalnya tapi juga karena awalnya gue harus menganalisa dan mengkupasnya lebih jauh, tapi itu cukup bagus.
Dunia seni, fotografi bahkan seribu kisah tentang senja sekalipun begitu menyenangkan buat gue seperti mengutarakan sebuah perspektif dan sudut pandang, bahkan cerita simpel dari orang-orang akan bisa gue kupas dan membawanya sambil berlarian di taman impian imajinasi gue, gue sesuka dan senyaman itu dengan seni yang se-subjektif itu.
Tapi gue juga bisa untuk mengerti untuk menggunakan sisi yang objektif pada saat itu diperlukan dan mungkin kadang terlalu straight into it, dan begitulah mungkin seharusnya.
Sebuah pondasi yang kokoh
source: google images
Gue bukan orang yang hebat, tapi gue adalah orang yang suka dan bergairah untuk mengembangkan diri sendiri, walaupun apa yang gue alami sekarang terkadang menahan untuk melaju dan lain sebagainya, gue pada dasarnya senang dan bergairah untuk terpacu selalu dalam berkembang.
Gue tak malu jika kelihatan kurang, karena memang begitulah adanya, gue tak malu belajar pada orang yang mungkin umurnya dibawah gue, gue sadarnya tak apa jika harus salah dan salah lagi, maka gue akan mengulanginya sampai tahu benarnya, karena yang gue tahu gue butuh sebuah pondasi yang kokoh
Gue seperti tergila-gila dengan mengembangkan diri sendiri, karena mungkin hanya itu yang bisa gue lakukan, tapi asal jangan jauh-jauh dari hal yang berbau seni, karena walaupun begitu gue kurang nyaman dengan hal yang berbau monoton. Tapi dengan begitupun, gue tak akan menganggap itu harus mutlak karena itu sungguh malah membuat gue merasa tertekan.
Kelelahan adalah bagian dari proses dalam sebuah pengerjaan pondasi yang kokoh, jangan begitu menjebak dan membuat perasaan jadi ketakutan karena menilai terlalu cepat, biarkan mengalir dan semua akan baik-baik saja, hargai lelahmu dan nikmati secangkir teh di ruang tamu yang sepi dengan radio musik yang menyala.
Maksudnya adalah, gue ada kata kata yang telah terucap tapi semua hal lain yang akan terjadi juga adalah bagian dari proses berpikir, jalan hidup dan gue juga perlu merasa kenyamanan dan ketenangan untuk berteduh sejenak karena pondasi kokoh akan lebih baik dibarengi kesehatan mental yang baik.
Mengalir seperti air
source: google images
Gue tertarik dan memang terinspirasi dari beliau namun memang tak mudah karena ini semua tentang pemusnahan ego dalam diri manusia, gue yang juga mengadaptasi konsep filosofi Yin dan yang sesuatu yang erat dengan keseimbangan sebagai pandangan hidup ataupun menjadi prinsip, ego adalah monster yang sulit untuk dikendalikan.
Gue terus belajar dan perlahan mengikuti jejak ini karena ini akan membuat kita bisa mengontrol diri dari ego yang bisa begitu menghanyutkan, gue yang masih muda itu juga berarti ego dalam diri yang sangat menggebu harus gue perlahan melatihnya, seberat apapun dan menahan sakit sebagaimanapun dan terus belajar untuk menjadi sosok yang berbesar hati.
Gue perlu melatih terus, gue tertarik menerapkan konsep ini mungkin karena dulunya gue adalah murid dari sebuah perguruan Buddhis yang terbiasa mengajarkan tentang pelepasan keduniawi-an dan juga meredam sifat ego dan belajar akan sebuah makna cinta kasih.
Gue memang sosok yang kaku dan mudah tak tenang menjalani hidup, terkadang juga adalah sosok yang emosional, sudah semestinya gue melatih diri dengan konsep mengalir seperti air itu, fleksibel dan sedikit tak terikat keduniawi-an itu, belajar rendah hati dan meredam ego yang menyesatkan.
Mengalir seperti air dan hidup dengan ego sedikit menurut gue membuat gue tertarik sebenarnya sebab dengan begitu kita akan menjalani hidup dengan lebih tenang dan menghargai apa yang ada dan terus bersyukur, mungkin banyak hal positif yang terkandung, namun yang tak muluk-muluk sajalah, hidup lebih tenang saja sudah cukup bagi gue.
Ingin selalu bisa bersyukur dan punya hati yang luas dalam menjalani hidup ini, agar juga hidup lebih rileks dan benar, mengalir seperti air, dengan begitu tekanan lebih berkurang, dan bisa lebih melihat dunia lebih-lebih luas lagi dan tak lagi dengan bayang-bayang sisi yang gelap tentang semesta ini. :)
God Bless Us





Komentar
Posting Komentar