June #throwback

source: google images, july month pixabay.


belenggu. itu nyata adanya, setidaknya menemukan gue tetap dalam keadaan hidup-hidup dan itu menyakitkan. sejauh mata memandang, elok-elok itu terasa gelap dan sempit seolah mata dan sorotnya hilang seperti boneka dan bukan seperti manusia yang gue kenal dan tahu, sekaliber itu gue, sepertinya memang gue yang salah dan sempit pada akhirnya.

gue suka terpecut dan merasa sakit seperti amarah yang disiram bahan bakar, tidak, gue ulangi dengan keras tidak, gue sama sekali tidak suka terpecut, namun sepertinya kemauan dan kebutuhan sering kali berjalan tidak beriringan, seperti mimpi buruk yang muncul saat sakit, bisa gue tolerin, tapi bagaimana jika, ia datang saat gue sedang tida sakit?

malahan menjadi sakit ketika mimpi itu datang dan tertawa-tawa menepuk lantai, melihat wajah takut gue karena sekujur tubuh tidak mampu digerakkan, ia mulai mengigit kuping kiri gue lalu menjilat jempol kaki kiri gue dan membiarkannya kebasahan sampai menetes ke kain sprei warna langit malam kebiruan yang sudah tipis dan terasa ringan tak niat.

ia hanya ingin melukai ego gue, yang sebenarnya itu hanya bermain di dalam kepalanya sendiri, menurut dia seperti itu, padahal juga ia hanya menyakiti dirinya sendiri karena ia terlalu takut untuk jujur dan melepas topengnya, perfeksionis yang penakut begitulah gue menjulukinya, begitupun gue, tapi bedanya gue dan aku, kita sama-sama dua orang yang punya topengnya masing-masing.

jika malam itu ia sebut rembulan, sedangkan siang ia sebut terik, lalu sore ia ucap senja, manusia seperti itu membuat gue secara naluriah menghakimi, menghakimi bahwa manusia suka sekali bermain cap-cap-cap cap-cip-cup, entah untuk lebih mudah atau terlihat beda sendiri atau kebiasaan dari zaman feodalisme, tapi yang pasti kata-kata itu mengandung energi perasaanya sendiri.

gue pernah terbangun dari mimpi buruk yang hebat, sebab gue suka sekali yang namanya dongeng, yang pada akhirnya menikam gue sendiri, membuat gue cemas tak karuan dan ga mau kalah, gue terkontrol baik oleh pikiran itu sendiri, ketika waktunya gue bangkit, gue malah lupa dan membiarkannya melahap gue sekali lagi.

sesuatu yang gue sebut sebagai penipu adalah otak, sebab otak itu licik, seperti seekor bebek yang kelihatan tenang di permukaan, padahal ia membuat pusaran keributan di dalamnya, seperti wajah orang-orang yang kelihatan tenang dan baik-baik saja padahal ia sudah hampir mati di dalam kepalanya sendiri.

Komentar

Postingan Populer