May #throwback

source: google images. may pixabay.


cedera engkel membuat gue trauma, bukan main, empat hari berjalan dengan satu kaki serasa tidak berdaya, bukan main, selain fisik, itu menyerang mental dan rohani gue, hati teriris tipis seperti bawang merah yang dilihat oleh serigala haus darah dengan pikiran akan makanan makanan yang enak, sekarang sudah memasuki mungkin lebih dari satu bulan.

setiap hari makan ikan dan sifut lainnya, karena pantangan makan ayam dan daging, bahkan es dan sayur kangkung juga tidak bisa, untungnya telur boleh, setidaknya itu menyelamatkan gue dari hari-hari yang makin suram, seperti robot yang bagian kabelnya usang dan rusak sehingga sedikit terganggu kulit bajanya tidak mau menurut saat diberikan perintah oleh majikannya.

bulan pun semakin gemilang menguasai siang hari, terang ketemu gelap, gelap ketemu terang, sekali lagi, terang ketemu gelap, pikiran mulai berdebu, sama seperti kamar gue saat seribu tahun tak yang peduli, selain gue sendiri, tapi saat ini kaki gue itu mulai mendingan, segala cara gue coba agar masa tua nanti hidup gue masih bisa terselamatkan.

intinya, diumur gue yang sekarang, hanya ada gue dan gue dan gue lagi, gue yang bertanggung jawab atas hidup gue sendiri, jejak seperti apa yang akan gue tinggalkan, tidak ada sangkut pautnya lagi pada generasi sebelumnya, julukan hanya julukan, semuanya manusia, yang terpenting dari itu semua, ingatan apa yang gue tinggalkan kepada umum, empati dan moral seperti apa yang sanggup gue tunjukkan.

semua ada konsekuensi, maka dari itu gue tidak peduli, gue lebih suka mengurusi lauk apa yang ada di piring gue, gue tidak suka mencampuri dentingan rumah tangga orang lain, setidaknya personal selain diri gue sendiri, dan itu baik menurut gue, tentu dengan kebebasan ada daya tanggung jawab dan batasan dari prinsip yang gue anut.

tapi juga biasanya, batasan itu juga dari gue, seperti tirani, saus tiram, tirai, ayam tiren dan ikan teri, jangan lupakan matahari saat awan sedang tinggi namun sejuk dan berangin yang tidak membuat tengkuk kepala sakit saat menyoroti diri siapapun, awan boleh berkumpul satu dan dua, tapi harus tebal, sekali lagi, dengan angin yang bermigrasi sesukanya!

nanti juga bahagia, entah dengan atau tidak keputusan yang terwujud atau pilihan semesta, biasanya pilihan semesta yang paling adil dan baik sebab gue hanya aktor bayaran per jam di panggung berlapiskan tanah dan percikan cahaya yang tak pernah kunjung padam, di realita seperti itulah gue dilahirkan, entah itu garam ataupun mapo tahu.

Komentar

Postingan Populer