May #throwback
source: google images. bulan yang cerah. pixabay.
Empat puluh sembilan hari baru saja berlalu, tepat kemarin hari tanggal 5 bulan juni, masih tidak bisa sendirian, diri ini akan korslet, melihat fotonya saja sudah membuat hati dan pikiran gue goyang, tidak nyaman dan membuat sedih, beliau sudah ada yang menjemput, paling tidak itu yang dikatakan oleh buku-buku agama suci.
Gonjang-ganjing dalam diri, beberapa waktu yang berlalu, kesana-kemari dalam perjalanan, terkadang ada momen dimana capek fisik ada baiknya dari pada diam diri yang mengarah pada kecemasan dan kembali hanyut dalam pikiran sendiri, capek batin itulah namanya, siapa sangka luka ini dalam, patah semangat yang semangat menghantui dan menjadi bayangan.
Banyak sekali belajar kehidupan beberapa waktu itu, yang gue rasakan seperti itu. Entah suka entah duka, sebatang dua batang sudah tidak ngaruh, separuhnya baru terasa cukup, bukan alasan yang baik namun itulah yang gue rasakan, dengan demikian, gue semakin tambah pintar untuk menjalani hidup ini, mempelajari hidup tidak bisa di kontrol melainkan langsung dari ujiannya tersebut.
Kejadian-kejadian yang membuat terkejut, cukup besar membuat gue tidak merasa nyaman, namun dengan begitu, kedewasaan ini akan terpacu, memang tidak ada jalan lain, yang pahit tersebut mesti gue telan supaya lekas sembuh. Belajar sabar dan ikhlas memang sejatinya begini, ini yang gue inginkan, maka inilah yang gue terima.
Seratus hari tepat dua hari setelah gue berulang tahun, apakah keadaanya akan sama? Tapi yang pasti, perasaan itu tidak akan berubah dan akan sama seperti hari yang pertama, serasa terjadi baru saja, luka ini hebat, luka ini panas dan perih, tapi tugas manusia seperti gue atau memang pada umumnya hanyalah bertahan dan berjalan.
Lebih baik disini, di rumah kita sendiri, dimana tanah airnya sudah akrab, bau hujannya terasa sama, sinar pantulan yang masuk ke mata juga gue kenali, ini akan baik-baik saja, akan apa-adanya dan hangat. Mungkin tak seindah utopia negeri sana, tapi ini selimut yang hangat, yang hangatnya tidak gerah di perasaan.
Hujan baru saja berhenti turun, langit mendungnya seolah menjadi pengingat bahwa tuan sedang dalam perjalanan barunya, siapa bilang kita tidak merindu? Siapa bilang gue tidak rindu? Tapi kita sekeluarga mesti ikhlas mesti bangkit, gue yakin, kita semua yakin, tuanku akan menjaga kita layaknya masa kecil gue yang tak akan pernah bisa terulang. Beliau orang baik, orang tahu.

Komentar
Posting Komentar