Noona.

source: google images.


"Maaf yah, selama ini aku memandangmu kecil." Ucap Hujan, setelah lama diam.

"Iya, gpp." Ucapku, membalas.

"Kok, gpp? Oh.. iyah yah.. hehe.. hmm." Ucapnya, salah tingkah.

"Iyah, aku mengenal sinar mata itu selama ini." Balasku, begitu saja.

"Tidak cuma kamu kok, Hujan, gpp, selama ini banyak orang-orang sudah seperti itu kepadaku,
 jadinya tidak ada yang spesial." -Lanjutku sambil tersenyum padanya.

"Iya... tidak ada yang spesial." Ucapku kembali, seraya berdiri.

Ada sedikit perubahan pada dirinya, terasa sekali, air muka yang ia tawarkan terhadapku, walau tidak melulu menatap ke arahku dan hanya menatap rerumputan di bawahnya lebih sering, aku tidak begitu menghiraukannya soal itu sebab pikiranku juga sedang kemana-mana, kusut tidak menentu.

Sore ini, diriku dan Hujan sedang duduk berdua di taman beralaskan rumput rimbun sembari menatap ke lapangan basket agak jauh dari hadapan kita, anak-anak muda sedang antusias bertanding di lapangan tersebut. Sedangkan kita berdua ini tidak ada antusiasnya sama sekali, hanya sesekali melempar pertanyaan yang disambut jawaban, begitu terus.

Yang bahkan, matahari jam empat sore sedang sejuk-sejuknya bersama semilir angin yang jadi penari latar sang bintang besar tersebut. 

Setelah sampai pada pertanyaan yang membuat canggung tersebut dan karena setelahnya aku pun berdiri, karena Jingga dari kejauhan melambaikan tangan ke arah kita.

Aku, Jingga dan Hujan adalah teman satu kerjaan namun beda divisi.

Aku tahu, pada awalnya, Hujan sepertinya penasaran denganku, saat pertemanan kita dimulai. Lebih dari itu, mungkin ia ada rasa padaku, lebih tepatnya, ia ingin menaruh rasa kepadaku. Dan disini aku juga sedang tidak gede rasa, tapi ia pernah entah sadar atau tanpa sadar menunjukkan suatu gestur dan tuturan yang menurutku ini sedikit jauh jika masuk kategori teman dekat. 

Aku sebagai laki, tentu mau-mau saja mengikuti alur, tanpa niat macam-macam, tidak juga tidak masalah, sebab relationship salah-satu simpelnya menurutku adalah saling support satu sama lain. 

Tapi aku juga mengenal tingkah-laku dan tatapan yang juga ia tunjukkan, sepertinya ia tidak bisa menerima bagaimana-nya aku, pandangan yang sudah aku terima ratusan kali semasa aku hidup, entah benar entah salah, tapi ini sudah tak asing.

Aku sudah tidak terkejut, selain itu, aku juga not worth it lah, siapa aku ini, spotlight kehidupan tidak di aku, sejauh ini aku hanya ingin tenang hidupnya, itu yang terpenting. Aku hanya NPC dan tujuanku kini hanyalah aku ingin baik dengan kedua teman-temanku ini dan aku hanya ingin menyayangi mereka yang sudah memberikan kepercayaan dan waktu berharganya kepadaku.

Maka dari itu, tak ingin di ganggu dengan hal-hal lain yang berisiko merusak pertemanan. Tapi jika seperti ini melulu, aku sangat berkecil hati, itu saja yang jadi halangan.

***

Namun, Puan di sampingku ini, tetiba wajahnya lesu, saat aku membalas panggilan Jingga, seolah aku begitu rela menyambutnya sampai lekas berdiri.

"An! Hujan! Sejak kapan nongkrong disini, berdua aja nih!" Ucap Jingga mendekat.

"Iya nih Ga, habis dari pameran di gedung Angkasa jadi mampir dulu di taman sini, hehe..
tadi mau ngajak kamu, Ga, tapi kan tahu kamu lagi rapat tadi." Balas Hujan.

"Oh iya sih, gpp kok, eh.. Antony, besok temenin aku servis laptop yuk, yang kemarin aku ceritain itu lho... Hujan, yuk, besok juga bareng, bisa kan?" -Ucap Jingga

"Eee.. lihat besok ya Ga, nanti aku kabarin di grup deh." -Balasnya Hujan, gerimis.

Jingga kini bergabung dan duduk paling ujung di sebelah Hujan sembari menikmati orang-orang main basket dan ikut merasakan suasana matahari yang sedang menghibur kita masih dengan semilir angin sebagai penari latarnya, yang sudah duluan kita berdua nikmati sedari tadi, dan obrolan berlanjut hingga ngalor-ngidul menyenangkan sewajarnya circle pertemanan.

Tak terasa langit menggelap dan empat puluh lima menit sudah berlalu begitu saja, Aku memecah keheningan dengan mengajak cabut mereka berdua juga, bersamaan dengan mulai bubarnya anak-anak basket yang sedari tadi sudah memberi tontonan yang menyenangkan kepada kita disaat kita juga sedang asyik mengobrol kesana-kemari.

"Makan mana, guys?" -Ucapku

"Nasi ayam kalkun mau gak? Ada tadi promosi lewat di IG ku, rupanya-rupanya deket sini doang."
-Lanjutku.

"Ih boleh lah, lu gimana, Hujan?" -Ucap Jingga.

"Ayo deh, penasaran sama sense kulinernya si Ann, awas kemakan iklan, haha, hmm." -Balas Hujan, gede. 

"Hahaha, enak-enak, kalau ga enak kasih kucing, meong~" -Ucapku bercanda.

"Krik~ krik~ krik... awas di somasi SJW kucing, kamu Ann." -Respon Jingga canda balik. 


***

Malam lumayan malam, sehabis makan, kami-pun berjalan sedikit ke pinggir menjauhi dari warung nasi itu, mulai bersiap untuk kembali pulang dan nampaknya selera mereka cocok dengan makanan rekomendasiku ini, tampak dari angin pembicaraan kami kali ini yang menunjukkan kepuasan.

Kendaraanku aku parkirkan tidak jauh dari lingkungan kami berada saat ini, soalnya memang destinasi kami dari tadi tidak menjauh dari sekitaran sini, dan sedangkan aku hanya memakai motor sports CB150 Verza yang tentunya hanya bisa membonceng satu orang lagi saja.

"Eh, Hujan pulang sama aku nih, kamu gimana nih Ga?" -Segera aku menanyakan Jingga.

"Sudah malam, begini, apa kamu tunggu saja dulu di warungnya? Nanti aku balik aja,
lagian setelah nganter Hujan ke arah utara, aku kan pasti lewat sini lagi buat pulang ke selatan
dan arah kita sama Ga." -Aku mencoba memberi tawaran.

"Ah jangan dah, udah gpp, aku taksi online saja bisa kok." -Balas Jingga.

"Kalau ga gini aja, aku aja yang taksi online, kan rumahku juga yang di utara.." -Tawar Hujan

"Ah jangan-jangan, tadi kan memang udah bareng dari awal, harus itu." -Timpalku 

"Iyah, Hujan, gpp loh, toh aku juga tadi awal ke kantor dari rumah juga sudah naik taksi online."
-Bujuknya Jingga.

Setelah aku dan Hujan menunggu Jingga dari memesan di aplikasi lalu memastikan semua aman terkendali hingga Jingga yang sampai masuk ke taksinya, juga Hujan yang tadi memberi gestur tangan untuk mengingatkan jika sudah tiba di rumah dan atau ada apa-apa lekas berhubungan. Sampai taksi online itu berjalan meninggalkan kami, disitulah aku dan Hujan berjalan ke arah motor.


***

Di jalanan yang mulai sepi. 

Dalam diam sedikitnya lima menit, Hujan memecah keheningan. "Ann, aku gpp lho, kamu anter Jingga tadi, lagian kan kamu dan Jingga memang searah, rumahku jauh, nyusahin kamu la."

Lamunan kupecahkan dan aku ubahkan untuk menjawabnya. "Gak lah, gak bisa gitu... dari tadi kan sudah barengan, yah aku maunya tetap nganter, Hujan, masa gitu sih kamu."

"Kan, akunya ga enak." -Celetuk Hujan.

"Yah, kasih kucing." -Celetukku balik.

"Ih bercanda kamu, Ann." -Ucapnya.

"Engga, aku ga bercanda sama lu, Hujan." -Ucapku.

"Soal?" -Ucapnya, ambigu.

"Soal... Soal apa?" -Bingungku mempertanyakan.

"Iya, dan... dan, aku cuma bisa minta maaf, Ann.." -Ucapnya berat,

"Ini masih tentang anter-jemput kan, Hujan?" -Jawabku

"Mungkin. eee... tidak.. sudah.. tidak ada harapan, iya. Mungkin." -Ucapnya semakin mengecil dan canggung.

"Oh, masih yang tadi itu? Sudahlah jangan dipaksakan, aku bisa paham. Hujan." -Ucapku ke Hujan.

"Kenapa?" -Jawabnya

Hujan memelukku erat, entah sisi mana yang dia inginkan dariku.

Mungkin ada gengsi yang ia tahan dan kini sedang bertarung dengan sengitnya.

Aku tak ingin menghakimi, aku mau mengerti juga, kalau ia adalah bagian dari lingkungannya, sedangkan aku bertolak-belakang-sangat darinya. Mungkin ia tidak mampu menerima, aku yang khas, aku yang spesifik, yang berbeda, yang biasanya seperti aku ini di mata dunia sudah tersemat label tertentu. Begitulah saja.

"Tidak, Ann, sekarang aku sadar dan aku menyesal, aku malu sama diriku sendiri. Aku golongan yang instan, keinginanku batil, tertarik dengan apa yang dunia bilang bagus juga tentang pengakuan. Dan kini aku baru mengerti jikalau sudah ada permata berharga buatku." -Ucapan itu terlepas darinya.

"Aku beneran sudah gpp, Hujan, jangan takut, kamu ga sama aku pun, aku engga berubah, aku sudah pegang omongan ini dari awal dulu, aku akan jadi teman yang baik buat kalian ini, apapun cobaannya nanti" -Ucapku.

Kembali aku melanjutkannya. "Memang benar, waktu itu sakit banget, memang aku sempat juga, ingin lebih, tapi aku lelah bodoh, melukai diri sendiri, maka dari itu, saat sudah melewati batas tadi, aku memaksakan diri untuk kembali sadar." 

Hujan dengan paraunya berkata. "Aku ingin lebih dari sekedar teman lho, Ann, mengertilah.."

Aku mencoba meyakinkannya lagi. "Apalagi, Hujan... posisi kamu itu sudah aman sekarang, aku sayang sekali sama kamu, entah apapun wujudnya, entahpun kamu nanti sama orang lain, itu sudah engga ngaruh buat aku, yakinku, paling tidak aku berusaha, aku ga akan mengganggu, dan aku ga tahu itu namanya ikhlas atau apa tapi intinya, itulah aku yang sekarang."

Tapi ternyata, ucapan Hujan selanjutnya segera mengundang gerimis turun dari langit.

Di sisi lain. Yang lurus hati, menghangatkanku, memberiku rona di pipi, romantisisme yang menyenangkanku, tapi segera aku ingin sadar, tak mau terbuai sesuatu yang belum pasti, aku orang yang takut sekali sakit hati, aku jaga ekspektasiku.

Hujan dan gerimisnya menyerbuku. "Posisi aku ga aman, Ann, aku yang ga bisa lihat kamu nanti ketemu perempuan yang bisa terima kamu, dan aku terlambat di posisi itu, yang sakitnya apa? Itu tipis sekali, buatku, kau tahu? Kenapa aku ini, dahulu, yah?!"

Lalu ucapnya pelan yang lembut. "Aku juga akui, aku cemburu Jingga dekat banget sama kamu, hmm. Tentu aku ga mau nantinya pertemanan kita kenapa-kenapa gegara pemicu drama ini, aku sayang sama persahabatan kita sekarang, kalian berharga buatku, seberharga kamu buatku, aku sayang sama Jingga, di sisi lain aku juga sayang banget sama kamu, Ann."

"Aku juga tidak tahu, aku bingung, Hujan." -Ucapku, sepertinya menutup bicara, dan lamunan menyambut masing-masing kita berdua.


Komentar

Postingan Populer