petrikor

source: google images.


laut yang disana laut yang gue kenal. ia menemani gue mengakhiri duka, ia yang merantau dari cina selatan menyusuri sungai-sungai & teruapi hingga kampung kampung di malang raya. hujan yang menyambangi daerah daerah terpencil, menyeka air mata gadis remaja yang bersedih atau sekedar memecah lamunan manusia dewasa di teras rumahnya.

kala cerahnya tuan mentari meninggi di langit namun awan-awan membatasi pergerakan sinar cintanya untuk sampai ke anak-anak cucunya. begitu sempurna yang dilakukan jika tak menjadi berlebihan, hujan yang tak kunjung turun sekaligus terik yang hanya sekedar terang tanpa menusuk kulit, sebab jarang dan sepi adalah sebuah cerita lain tentang perasaan bahagia.

libur yang sudah usai mengambil alih lumayan banyak beban pikiran dan toksik-toksik. namun gue jadi lebih mengerti lagi tentang keberadaan diri ini yang sesungguhnya. hidup hanya sekali, gue ingin tak lebih dari sebuah bualan, sudah itu mati menyisakan jiwa-jiwa yang kita hasilnya selama kita hidup, baik dan buruknya, tentulah gue ingin lebih sedikit hitamnya ketimbang biji butir tasbih putihnya.

bulan delapan menjadi tulang punggung penentuan dari visi-visi yang gue ciptakan demi keutuhan yang sesungguhnya, tidak ada kata gagal, adanya harus lebih semangat lagi, gue ingin mengurangi ideal itu, memaksa itu, gue ingin escape, gue ingin tercapai tanpa aksi manusia lain. dan semoga tidak ada hal dari masa lalu yang muncul sekarang dan di masa depan nanti yang bisa mencipta tragis dan duka sehingga menjadi kesedihan dan kembali ke angka 0

juli musim panas ada berada di masa depan dan beberapa bulan lagi, hari kelahiran sang maestro overthinking bersertifikat ialah gue sendiri. gue hanya lelah menjadi cengkeraman dan budak yang dipenjarakan monster masa lalu itu. fekesien di masa depan yang gue impikan semoga lekas terwujud secara sesuai dengan segala baik dan buruknya realita alam.

ialah sukar jika kita berada di sirkel yang memang bukan untuk kita, penderitaan sesungguhnya adalah kesepian di antara keramaian, tak ada jalan lain untuk selesai selain menerima (ia sudah menjadi bagian dari kita), mengakui (jika kita kalah) &  memaafkan (karena sudah menyakiti diri sendiri), dengan cara apapun yang berbeda-berbeda, sebab tidak ada yang pasti.

lega kepada laut kala libur bulan juli. sebuah pulau di sekitar dataran melayu sana, semenanjung dan seribu pulau, membuat gue peduli pada diri sendiri dan menemukan titik balik (semoga ini menjadi titik balik yang sesungguhnya, amin), gue ingin escape dan menyudahi lingkaran setan yang terbentuk dari lama, turun temurun, budaya yang tidak bisa gue terima, dalam diam.

Komentar

Postingan Populer