December #throwback
source: google images.
Rasa sakit siapa yang sanggup menahannya? Gue ingin meninggalkan segala kebencian dan rasa sakit ini dibelakang, bahkan seperti itupun tidak menjadi mudah dan semua yang terjadi tidak selalu sesuai kemauan diri, tak ada proses mudah, tak ada jalan pintas, pada akhirnya tetap semua harus diri sendiri yang pulihkan, walaupun orang lain yang melempari kita kotoran , hidup tak se-adil itu untuk mereka yang ambil sendiri kotoran mereka, harus diri sendiri yang membersihkannya.
Jikapun membalas, maka ini tak akan pernah selesai, masuklah semakin dalam pada lingkaran setan. Kita yang dibuat sesat, kita tersesat, kita yang sakit, kita kesakitan lalu marah, tidak juga membuat kita menjadi benar atau setara atau adil malah kita menjadi salah. Bahkan ingin hati langsung menyudahi begitu saja, pikirnya mudah nyatanya makin tenggelam pada sakit itu, sebab tak yang namanya jalan pintas, masih ada waktu yang belum terpenuhi untuk rasa sakit itu mengering.
Jika kau membenci gue, utarakan di depan muka gue, kenapa penting? sebab kau masih gue anggap orang terdekat, jika kau asing maka itu semakin mudah buat gue memutuskan, tenang saja mengecap orang lain baik dan buruk, benar dan tidak benar, tak pernah menjadi hal mudah buat gue, sesungguhnya gue tidak seperti itu, tapi begitupun gue tidak pernah nyaman dengan yang namanya main belakang, karena sepanjang umur gue, gue lelah menghadapi kenyataan seperti itu.
Apakah ini menguatkan jika yang namanya tulus itu semakin langka?
Atau ingin segera menyelesaikannya di ring? jadi uneg-uneg plong terkeluarkan, menang kalah bukan urusan, hanya untuk memancing kejujuran itu muncul sesaat, biar tahu, gue tak pernah main-main soal kesetiaan, hitung-hitung dendam yang kau tanam lekas tersalurkan, sebab kau membuat gue matipun, kau tak menang sebab kau hidup namun kau juga mati. Jangan bodoh, sebab dendam yang kau akui buat gue, tak pernah jadi masalah gue, kecuali main belakang itu sendiri.
Apakah 2022 bisa sedikit membantu gue yang mudah lengah ini? Cerahkan pandangan gue kembali, hati yang berdebu, pikiran yang sudah tertutup, gelap mata, linglung, ketiban lemari kayu, terpeleset omongan sendiri, tak karuan menjalani bahkan dalam satu hari saja, orang tua yang tak suportif, yang sangat tak sesuai dengan gue bahkan hal yang simpel saja tak cocok, sekalipun gue tak banyak macam-macam, getir rasanya.
Apakah memang, yang harus gue lakukan sekarang hanya perlu diam saja dan bertahan? Dan biarkan semesta bekerja, karena sudah kemana-mana gue mencari dari a-z tak ada yang dapat dihubungi, mereka yang sampai sekarang menganggap gue dramatis, membesar-besarkan segalanya, terima-kasih atas tidak membantunya kalian, berani berbuat berani bertanggung jawab, sebab gue juga manusia, manusia ciptaan semesta.
Apakah perlu gue menulis harapan kembali? hahh, baiklah. Semoga tahun ini tahunnya gue, gue hanya ingin kaca-kaca, batu ganjalan di hati ini lenyap, sembuh dari kegiatan adiktif, tidak palsu saat tertawa, saat merasa nyaman bahkan tidak palsu saat sedang tidak berbuat apa-apa, anda tak tahu kan? hawa gelap apa yang sering menyelimuti gue, jangan berbuat gelap kalian.
Tapi kelak jika dunia seperti ini memang bukan buat gue, gue harap berhentilah mengejar gue, lagi...
Komentar
Posting Komentar