July #throwback
source: google images.
Siapa berani berdiri di ambang dengan begitu tenang, begitu tidak peduli di situasi yang begitu tidak karuan, menahan segalanya kepada perasaan yang rapuh. Begitu rapuh dan halus. Perlahan mengeras, seperti butiran pasir putih pantai yang berada di ujung anak kota, sedikit warna biru tembok gedung ruko dan gudang milik kerajaan gurita bisnis.
Lingkungan perumahan mirip arsitektur eropa di eropa sana. Tembok cat warna merah muda dengan atap genting warna krim kuning, semakin dilihat semakin lapar. Hati ini tenang, apa yang dilihat apa yang tertulis, lampu neon tumben dikerubungi laron, hanya tiga laron besar disana, menambah suasana begitu tenang dan sepi, dan diri ini mengerti kalau inilah yang dibutuhkan.
Cinta itu apa? Dari kecil kita sudah dihidangkan kata itu, banyak versi, beda orang beda maksud, beda hari beda penyampaian, gundah maupun senang, beda juga lah artinya. Pesimis bahkan optimis-pun berhak mengakui cinta versi mereka adalah yang ideal, siapa kamu berhak melarang-larang? Semua benar, yang salah adalah jika itu sudah menguasai dan merampas teman seberangnya.
Gue memilih untuk tidak memilih, itu juga memilih. Semakin dicari semakin hilang, seperti anak kucing saja, yang rela meninggalkan dirimu karena dia tidak suka padamu, padahal dia masih anak kucing, dia sudah bisa memilih apa yang cocok buat dia, memilih pilihan yang rumit, tapi memang seperti itulah kebebasan, harus diperjuangkan untuk memilikinya.
Mending diam mematung dan melihat dengan mata kotak. Bereaksi tiba-tiba itu bukan solusi malah menciptakan sejarah baru bagi dirimu sendiri, sejarah yang belum tentu perlu diberikan tepuk-tangan sorak-sorai kegembiraan. Bukan datang untuk merubah nasib dan merenungi dan memberikan dampak manfaat, bisa saja dia datang sebagai "pada awalnya tidak diperlukan".
Merangkum yang kemarin terjadi walaupun baru seminggu lalu, itu tidak semudah kelihatannya. Apalagi itu sesuatu yang krusial, terkadang hanya bisa kita rasakan, tapi untuk menyimpulkan dan membentuknya menjadi berwujud itu berat, karena kita terlalu tenggelam olehnya, terpuruk dan gelisah. Butuh waktu dan berdamai dan itu ada di masa depan kelak.
Harapan yang bisa diri ini titipkan adalah tetap diberikan kesempatan untuk menjadi tangguh, kuat sekaligus kenyal. Sebab yang ada di depan tidak ada yang bisa menyusunnya. Membuat prakiraan dan menyiapkan matang mungkin bisa, atau itu satu-satunya yang mampu kita berikan, berdoa dan berharap dengan percaya adalah kunci untuk manusia seperti gue.

Komentar
Posting Komentar