Harapan nyata adanya
source: google images.
Banyak orang berkata jangan menyesalkan ini, jangan menyesalkan itu, jangan menyesalkan yang sudah terjadi... Ada yang bilang itu bodoh, mungkin bisa ada benarnya, tapi kalau terjadi dan pedih di waktu-waktu awal lalu susah move on apa salahnya di-amin-in? Kenapa? karena penyesalan juga datang dari salah satu bagian jiwa kita, penyesalan adalah manusiawi.
Rasanya ingin menyangkalnya, membencinya, melelahkan dan membuat kita merasa kecil, tapi yang membuat rasa dari perasaan itu semakin membesar dan menyakitkan karena kita menolaknya. Coba sesekali mulai belajar menerima dia, menikmati dia, yah benar, sama saja... sakit dan malah perih. Tapi "perasaan negatif" ini butuh kita, ia butuh pelukan hangat dari diri kita.
Bahkan gue yang melahap dan menjalaninya rutin dalam melatih hal ini, sekali digampar (yang karena ada di atas gue), gue juga rasanya sulit menerima dan ingin sekali menyangkal dan membual atasnya, tapi setelah beberapa saat mulai menyadarinya, gue kembali lagi untuk sesuai jalur latihan ini. Latihan tentang menerima rasa sakit dari efek pengalaman menyakitkan yang baru saja lewat belum lama.
Karena semua ada alasan, semuanya dipersiapkan kepada gue yang sudah memilih jalan ini, jalan dimana gue ingin sekali melaju pesat 'bak roket luar angkasa, mungkin ini tempaan luar biasa itu, yang padahal bisa saja belum setengahnya, tapi dampaknya luar biasa, gue bisa merasakan, atau hanya sugesti? Jika benar ini sugesti, terima-kasih untuk alur pikiran yang satu ini, tangguh!
Sakitnya bikin gemetar, sakitnya bikin pusing, sakitnya bikin efek seolah tidak tidur semalaman ditambah menenggak satu loki saja minuman ber-alkohol, selow-selow-ancur. Yang setelah itu masuk ke fase, sakitnya bikin gue bersemangat, sakitnya bikin gue ingin lagi, sakitnya bikin candu. Apapun yang terjadi, gue mesti siap, gue mesti kuat, gue mesti terus bangkit, ga boleh kendor, sekali, dua kali, tiga kali, boleh lah. Hahaha, namanya manusia, asalkan selalu aware untuk bangun lagi.
Nikmati saja rasa sakitnya, ga nyaman dan sebagainya, kita boleh senang, semangat dan merasa positif tapi jangan membenci apalagi menolak rasa amarah, sedih dan perasaan negatif, bagi gue semua perasaan harus diterima sama, diakui, dihargai dan belajar untuk lebih seimbang (walau gue tahu itu sulit), sebab perasaan ini sudah punya kita, yang mungkin alamiah, memang terbawa dan sudah ada sejak masa nenek moyang dahulu.
Besyukur dan rendah hati mungkin adalah kunci yang mampu membukakan sebuah pintu ajaib, walau bukan kunci pasangannya, paling tidak, sudah bisa untuk membuka pintunya dahulu dan menemukan peluang-peluang lainnya, masa depan siapa yang tahu? Dan gue mesti punya pemikiran pondasi seperti itu, lebih kuat dan tahan banting, semua punya porsi masing-masing, perjalanan hidup berbeda tapi pola naik-turunnya menurut gue, sama.
Have a nice day :)

Komentar
Posting Komentar