Telanjang kaki
source: google images.
buatku teringat tahun-tahun lalu
di sisi jendela rumah
ada mentari yang menunggu
masakan rumah ibu
tentram tetangga-tetangga sebelah
perasaan ini? perasaan apa ini..
beberapa momen penting
kerap aku bisa merasakannya
pedih perih
dan segala wujud lamunan
yang aku sembah
nyanyian angin
istimewa
sudut kota.
dan ambisi
pasti mati
jika berada disini
sesuatu yang tepat
di waktu yang salah
sudah banyak yang kulanggar
hanya untuk membuktikan lelucon bodoh ini
aku menenggelamkan ke lumpur anak babi
berkali-kali
hanya untuk membuktikannya..
hanya demi segenggam wawasan.
jangan rusak mustika berharga dia
hoi kau pendatang, seharusnya kau malu
seharusnya kau berbaur, seharusnya kau juga punya mimpi
maka dari itu, seharusnya kau bisa mengerti
apa kabar disana
dulu tak ada satupun yang tepat
rusak dan gundah gulana
pelangi melambai kepadaku
saat aku menghapus jejakku
di pasir parangtritis
dan aku..
hanya untuk pergi
yang dimana semua orang menuduh jikalau aku hanya kabur
lalu datang bayanganku memegang pundakku seraya berkata
jangan takut dan jangan pikirkan..
dan aku..
dengan menelan pil pahit
melepas begitu saja segala idealis
lalu ambisi..
meninggalkan mustika masa mudaku.
dipaksa, sengit
habis dan tak berarti..
penderitaan ini
oh sungguh menderita
menelan bulat-bulat
menelan hingga overdosis
menelas sembari menangis
bersedu-sedan
apakah aku telah kalah?
lalu aku..
pergi ke tempat dimana
aku mulai bisa mencintai dia
mencintai diriku sendiri
berusaha lebih baik lagi
untuk tidak menatap-
dunia secara setengah
orang lain secara setengah
dan diriku secara setengah..
dan sekarang ada dua yang berharga
bagiku, walau segalanya tak sama.
semoga ini mewakili
sebagian masa mudaku.
silahkan mati dan lagi.
sudah terbiasa dan aku akan menikmatinya.

Komentar
Posting Komentar