Kali ini, mengalir seperti air...



Pertama-tama ucapan rasa syukur, 

kepada Semesta atas ruang, udara, air-bumi,  panca dan segala selakota, juga masih ada saja jua kesempatan! Dan kala bulan purna yang siapkan menjelang pagi. Maaf, aku masih nakal, kurang bermoral dan cenderung buruk. Aku berusaha berproses, tapi beri hamba kesempatan, maaf atas kurangnya pengetahuan dalam diri, pengampunan harusnya ada kepada hamba, berbelas-kasihanlah kepada hamba, oh Tuhan! 

Bunga Matahari masih kelilingi bumi. "Selamat siang kawan lama! Hari ini kamu akan berbuat apa? Kalau aku baru saja selesai uring-uringan menahan siksa gelapnya siang satu jam lalu." -pinta daku kepada bunga. Apakah cinta itu nyata? Bukan Cinta tapi hanya cinta. Pahamlah dikau sang guruku yang tak lelah pada kenakalan-ku. Apakah aku ini patut dibenci dan dimusuhi? Aku tahu aku begini, lelah memikul yang bukan pekerjaanku sewaktu lebih muda dahulu, lelah bukan main! 

Aku harus percaya, aku tak seburuk itu. Siluet yang aku kagumi tapi disaat yang sama aku takut padanya. Takut pada ketidak-tahuanku padanya. Tau-tau menerkam saja, haha. Kelak pasti ada jawaban atas segala ragu-ragu, apa ini dan itu, suara-suara yang tidak tahu ada nyawa atau tidak yang ada di dalam kepalaku. Semuanya takut dan masih abu-abu cenderung hitam. Timbul kemudian timbun, mungkin itu yang terjadi pada masa lalu. 

Tirai-tirai berwarna biru tergulung dan juga tirai pada sisi lain bermotif bunga diam saja jika tak digerai. Aku menyukai hujan tapi tidak dengan rembesan airnya. "Apanya aku-ni, ngelantur saja kerjanya!" Pikiranku tak boleh seperti layang-layang, sesuka hati dibawa terbang angin terlalu menyeramkan. Seharusnya seperti kapal berlayar di angin yang tak sepoi lagi, tapi kemudi kayu jati ada padaku, itu saja. 

Perlahan, aku ngantuk saat terus berulang kata karena takluk dengan ketakutan pikiran-ku sendiri, aku tak tahu, aku telah fatal atau tidak, semoga masih ada pengampunan untukku. "Langit, aku berlumur dosa kelam, maaf dan ampuni jiwaku, aku kurang didikan dan kurang pengetahuan, aku sangat bimbang dan terbelenggu, jujur aku sangat lelah, takut dan tertimpa batu batu besar semakna depresi." -ucapku meminta maaf kepadaNya. 

Masih adakah aku jika hanya mengandalkan aku? Tentu tidak, aku akan musnah lebih ringan dari debu dan hilang lebih dari yang tidak kelihatan. Maaf, aku ingin mengucap maaf kepada Semesta. Aku anak muda berlumur kegelapan. Aku ingin berenang-renang di air bersih nan kilau, menikmati air ketenangan, sejuknya hawa harapan baik. Langit Semesta, aku mohon ubahkanlah aku, aku mau mengubah diri tak lagi ingin terpenjara ketakutan seperti itu. 

Aku ingin didikan, agar tak muram. Agar tahu, dan tak salah lagi. Aku ingin selamat, tak tersesat. Jika aku selamat, semoga aku juga bisa berbuat sama pada sesamaku. Belajar dengan bumi dan meminum air saat kelelahan. Maafkan, aku, sekali lagi. Kecolongan adalah mula-mula yang mungkin akan aku merasakannya. Intinya, aku ingin sembuh dan tenang. Tak ingin susahkan orang lain lagi. Aku mohon, Semesta. Ampuni hamba.

#phonediary

Komentar

Postingan Populer