July #throwback

source: google images. august pixabay.


rupanya bulan juli berlalu dengan cepat. seperti banyak pikir yang selalu gue terapkan sehari-hari, secepat itu bulan ini berlalu, rupa juga terasa sepi, hampa dan bercucuran dengan semena-mena, seperti laut utara yang dingin dan mempesona, sekaligus, mempesona. malam juga terbit dan dingin menyelimuti rasa sepi itu sendiri, semalaman.

nanti juga pudar, atau berpendar? hanya nanti-nanti yang bisa memukau gue, banyak keputusan yang telah dibuat seorang diri, tanpa mempercayakan sedikitpun ke anak. makan dalam semenakutkan itu, tapi gue juga tidak memilih tempat dimana gue dilahirkan, rantai ini erat, lebih tangguh dari baja besi, ajaibnya ia tak berbentuk padat, hanya kepercayaan turun-temurun yang mampu menguatkannya.

dahulu kala, seperti di buku dongeng, yang tipis namun penuh moral, memang itu tujuan dibikinnya dongeng hanya untuk perpanjangan tangan kepada orang tua untuk mengurus anak-anaknya, tidak semua mampu menjadi orang tua begitupun, tidak semuanya mampu menjadi anak-anak, banyak aturan yang dibentuk sedemikian rupa dan sederhana hanya agar muncul satu kata, nurut.

tidak ada kesempatan dan ruang untuk berpikiran kritis, maka dari itu mitos dan kepercayaan palsu berdebu mengambil alih, semuanya atas dasar seperti itu dan dari dulu. nanti juga selesai, katanya. padahal itu tidak pernah selesai, ia seperti parasit di diri manusia, sampai ia tua dan mati, gue hanya tidak tahu problema ini akan kemana nantinya setelah selesai dari dunia fana ini.

ternyata ketakutan itu bisa melebar dan merembes, satu satunya cari hanyalah cabut kabel dari stop kontaknya, matikan paksa, karena jika menunggu nyaman, itu akan lama dan ia pun, tidak pernah sembuh, karena untuk sembuh dibutuhkan ketidaknyamanan, biarkan ia mendidik, mendidik gue, gue dahulu, gue sekarang dan gue masa depan.

kesempatan itu ada dimana-mana, asalkan pikiran rumit dan takut bisa dihabiskan, semuanya berjalan dengan jernih dan tenang. jadi gue suka merasa, jika ada yang menyalahkan gue menyia-nyiakan kesempatan, itu tidak sepenuhnya benar, jika itu bukan punya gue, biarkan saja begitu, biarkan malam dan pagi selanjutnya menuntun gue yang selalu berpikir ini. 

jika bulan dan purnama saling kenal, apakah mereka akan berteman baik, sebab mereka seolah sama, kepribadian, cara melihat dunia, cara diam saat tidak ada yang meperhatikan, cara pulang saat ganti jadwal manggung dengan matahari terik, mereka juga seperti otomatis, mereka berpengalaman sebabnya ia sudah ratusan juta tahun di bidang ini.

Komentar

Postingan Populer