Kuno VS Sekarang
source: google images. life must go on. pin page pinterest.
sesuatu yang terbarukan tidak melulu tentang "ia yang terbaik". namun kita hidup untuk saat ini, jika ingin survive, maka kita harus terbiasa dan bersikap terbuka atasnya. jikapun gue bisa segala halnya adalah tentang diri sendiri. maka tanpa pikir panjang gue akan bilang zaman gue adalah yang terbaik karena paling sesuai dengan diri gue sendiri, namun itu hanyalah omong kosong belaka.
gue pun sebenarnya tidak nyaman untuk mengomentari urusan-urusan orang lain, gue lebih nyaman untuk mau mengerti apa alasan di belakangnya, namun dari kebanyakannya tidak mempunyai alasan dan terkadang merugikan orang lain (berlaku untuk gue sendiri juga), maka dari itu, hal ini yang makin menguatkan keputusan gue tidak mencampuri suatu hal di luar diri gue.
mau kuno sekalipun, namun dari pengalaman-pengalaman yang gue rasakan sendiri, gue sering kecipratan oleh sikap seperti ini, dan ini membuat gue sebal, seringnya, kondisi seperti ini tidak semudah yang dibayangkan, sekilas tampak bisa untuk tidak diperdulikan namun banyak keputusan dari si kuno ini yang melibatkan rasa dan sentimental yang rumit untuk ditolak.
tidak semua kasus adalah sama, namun dalam kisah pribadi gue, penghargaan pada proses adalah sesuatu yang nihil untuk diterima kaum-kaum kuno ini, mereka beranggapan, yang muda wajib patuh pada yang tua sebab mereka berpengalaman dan mereka adalah benar yang sebab karena mereka sudah hidup lebih lama dari yang muda dan sudah dipastikan pilihan selanjutnya adalah benar.
jangan berharap ada kata tolong, maaf dan terimakasih, mendengar saja adalah kesulitan atau bukan sulit sebenarnya, tapi ignorant belaka, mengalah terkadang tidak menjadi tindakan yang tepat, karena mengalah juga perlu cocok dengan keputusan dan kesesuaian mereka. berpikir untuk mengerti adalah abad kekosongan bagi mereka.
jika gue meninggalkan apa yang telah gue pilih sebelumnya atas dasar cinta-kasih dan nurani, maka dipastikan pondasi itu runtuh, itupun masih ada gengsi yang terlampau mahal untuk dipertahankan. kata-kata begitu lihai terucapkan, membolak-balik dimensi kenyataan dan setelah perang mereda, jangan heran semua akan terasa seperti tidak ada yang terjadi.
lalu saat ini, apa selanjutnya? mungkin hati telah habis dibakar musnah, tidak perlu lagi pembenaran atas nama lingkaran keluarga dan pembalikan validasi, karena ada juga bagusnya dari sebuah kejadian yang terakhir yang adalah ternyata sebuah tutup buku dan validasi yang sudah ditemukan dan tidak lagi ini gue cari. memang menyedihkan, namun hidup gue harus tetap berlanjut, bukan?

Komentar
Posting Komentar