April #throwback

source: google images. bunga putih. kompas.com


Suasana berduka kali ini merenggut kaki-kaki patah gue, mengguncang dunia gue, masa-masa kecil begitu riuh muncul ke permukaan. Gue menyayangi beliau, begitupun beliau kepada gue dan seisi keluarga yang lain, beliau orang yang baik, terlampau baik, hal baiknya adalah semua orang mengenal beliau sebagai orang yang baik.

Ini semacam titik balik yang hebat, walaupun untuk saat ini setelah beberapa waktu terlewati, apinya sedikit mengecil, mungkin kelelahan, mungkin sedang hilang energi, hal seperti ini sungguh melelahkan, tapi gue tahu, api ini akan tetap bertahan yang secara kenyataannya sekecil itupun masih tetaplah sungguh besar dan baik-baik saja.

Hal yang gue takutkan akhirnya terjadi, ini meruntuhkan secara nyata sebagian diri gue, tertinggal ingatan yang baik tentang gue dan beliau, saat ini gue menuliskannya dengan lesu dan hati yang ribut dengan hebatnya, tidak nyaman namun gue tahu, beliau sudah tidak merasakan kesakitan lagi, gue mendoakan yang terbaik untuk beliau selalu.

Mungkin saat ini semua sedang lesu dan runtuh, tapi akan ada hari dimana akan bangkit, walaupun secara jiwa akan tetap sama terekam seperti hari pertama di waktu itu, sungguh tidak mudah, gue harus jaga kandang benar kata abang gue yang satu itu, gue harus mengenal dengan lebih baik lagi, keluarga gue, supaya gue tahu mimpi apa yang mesti gue teruskan lagi.

Tidak bisa sebulan atau dua bulan, bahkan setahun, ini semua melangkahnya pelan namun penuh keyakinan dan kepastian, saat ini beberapa hal mulai muncul ke permukaan, sebagian bagus sebagian banyaknya lagi sungguh mencengangkan dan terkesan menakutkan, tapi gue dan generasi yang sebaya lainnya sangat bisa melaksanakannya dengan baik dan terukur pasti.

Sekitar dua minggu lagi akan memasuki empat puluh sembilan hari, gue tidak tahu, rasa apa yang akan gue rasakan dan terima, apakah kembali mengguncang, apapun itu akan gue rasakan sungguh-sungguh, semoga beliau tenang di alam sana, melindungi kita sekeluarga dari kejauhan, mungkin dekat dan sedang memantau kita sekeluarga.

Sejauh ini gue tidak mampu untuk banyak merasa sendiri, sebab hati akan kembali penuh dan kacau, kecemasan bergulir dengan hebatnya, melelahkan dan makan waktu, ruangan kamar terakhir dimana beliau pergi masih menyalakan listrik dan tidak boleh padam, gue melewati ruangan itu akan pasti mengingat beliau, sedih namun gue harus belajar ikhlas.

Komentar

Postingan Populer