Mengecat rasa sakit
source: google images.
Hingga detik ini gue masih menerka-nerka, menerka-nerka bukan dalam artian sebenarnya. Cukup tenang untuk malam ini... dan malam malam kemarin. Gue disini sudah malas, atau mungkin saat ini saja, gue tidak tahu harus bersikap seperti apa karena semua terasa sangat salah, jadinya gue memilih untuk lebih berpasrahkan diri, bukan menyerah karena ada perbedaan mendasar dalam artian berpasrah dan menyerah.
Mungkin tujuan dalam seni kehidupan adalah tidak perlu banyak pikir hanya perlu dijalani, sekali lagi bukan menyerah atau mengalir tanpa tujuan, tekad tetap harus ada tapi jalani dengan apa adanya tanpa memaksakan diri, menuju ke tengah. Pelan dan satu per satu, kalimat yang sudah sepanjang beberapa waktu ke-belakang selalu gue ucapkan dari awal semenjak gue mengenal kata itu.
Ekspektasi untuk saat saat ini selalu bertabrakan dengan realita. Mungkin agar kita lebih belajar untuk lebih bijak lagi dalam menyikapi hidup ini, tak ada yang bisa sesuai dengan kemauan kita, emangnya, kita aktor utama untuk dunia ini? Apapun yang terjadi biarkan saja, iya ataupun tidak, tidaklah penting, yang penting jangan menjadi si annoying bagi kehidupan orang lain, cukup itu saja bagi gue, walaupun tidak ada batasannya.
Pait se-pait paitnya kopi yang gue seruput tadi sore yang serbuknya cepat turun namun tetap membuat perut ngilu karena gas-gas yang berlebih setelahnya, gue memang rentan masalah perut. Tapi gue membuat cuplikan ini hanya untuk gue, hanya di pikiran gue bukan untuk diperbandingkan dengan pihak manusia lainnya. Apakah gue salah? Apakah gue benar? Itu tidak menjadi penting lagi, sepertinya begitu.
Mungkin benar, kata seorang sensei prajurit Jepang, ia berkata 'memang benar saya sering datang terlambat, maaf. Saya terlambat karena saya ragu, jalan yang saya pilih untuk kehidupan ini ternyata salah.' Bingung dengan keputusan hidup yang telah gue pilih sendiri, paling tidak gue masih patut ber-bangga dengan ini, karena ini adalah pilihan atas dasar kemauan gue sendiri.
Hidup tidak selalu hitam dan putih, ada abu-abu, ada lebih dari ini, merah, hijau, kuning, oranye, ungu dan macam macam lainnya, dan ketika kita menoleh ke atas dan menghela napas, masih ada langit biru yang memperhatikan semuanya. Salah benar bagian yang tidak terlepas dalam diri gue ini yang tidak sempurna namun tidak juga mesti disebut sebuah kecacatan.
Menikmati rasa sakitnya agar kita masih bisa merenungkan semuanya, jangan terlalu melampaui batasnya karena khawatir kitanya tidak mampu mengendalikan hal-hal besar selanjutnya, tapi jika itu terjadi hadapi dengan senyuman dan semangat, pikiran dingin dan perlu pertimbangan. Hidup tidak cuma sekali namun kita hidup untuk setiap hari, salam damai.

Komentar
Posting Komentar