September #throwback
source: google images.
Di sepanjang jalan ini, semuanya adalah tentang kasih sayang...
Sudah berakhir kukira, ternyata takkan pernah. Apakah menjadi seniman itu kutukan? Jika iya, berarti aku yang masih belum cukup bijak untuk bisa menerimanya, mungkin lima atau sepuluh atau lima belas tahun dari sekarang, atau ini adalah misi seumur hidup, agar baru bisa mengerti dan menerimanya. Aku rindu bersepeda dan berkendara -pikiran yang filosofis sedang bekerja namun itu juga mengobati rasa sakitnya.
Melangkah ke seberang, untuk bertamasya dan menenangkan jiwa hanya untuk segenggam rasa aman. Aku sudah bilang, takdir dan kutukan itu beda tipis, maafkan tuan atas sembrononya ucapanku barusan, karena aku hanya ingin bisa berekspresi layaknya masa muda yang kini diriku sedang jalani, takkan lagi bersikap menyebalkan seperti orang-orang muda berlagak dewasa sok eksklusif padahal mereka sendiri masih buta akan dirinya sendiri dan apa yang sebenarnya mereka inginkan.
Sekilas info, aku nyaris mati dalam menghadapi sebuah kegelisahan tentang maksud ini dan itu, aku sadar dan telah di tempeleng keras hanya agar aku terbiasa menutup mulutku lalu diam, terima kasih dan aku bersyukur padamu ibu bumi. Melatih diri ini paling tidak -satu langkah ke depan agar bisa menjalani hidup ini dengan lebih bijak.
Kemarin aku kira akan berubah baru ternyata berulang saja, maaf ternyata hanya ego masa mudaku saja, haha. Aku ingin belajar melepaskan, tapi itu tak semudah yang dibayangkan, paling tidak bagiku sendiri, semua di luar kontrol akal sehatku, oh maaf aku sedang di luar frekuensi, aku sedang tidak ada akal sehat, aku sedang tenggelam dalam ketidak-rasionalan.
Energi mudah habis, jalan pikiran terlalu berbeda... Tapi cukup sampai disini pembahasan dan curcol-ku tentang pikiran yang terlalu berbeda, lagi merasa malas untuk merasakan di-judge dan di-sepelekan, lagi malas dan merasa tak sanggup untuk menerima aura-aura energi negatif dari manusia lain, bukan tentang siapa benar dan siapa salah, aku hanya malas dan tak sudi.
Bulan baru, aku tak ingin terlalu berharap "bulan baru, harapan baru..." Tidak, lelah saja bermain fantasi yang model beginim paling tidak mungkin untuk saat ini, karena hal baik dan buruk selalu satu kesatuan, sulit dipisahkan, semua tentang dari kita sendiri, pondasi kita. Tapi apa salahnya berharap? Yasudah ga jadi berarti... aku berharap saja, apa salahnya?
Semoga bulan ini lebih baik dari waktu kemarin, semoga indah pada waktunya, semoga sehat menyelimuti, semoga penuh cinta kasih, semoga lebih sabar, semoga tenang dan mengerti pikiran sendiri, semoga bisa lebih untuk melepaskan, semoga kuat, semoga lebih mampu, dan semoga-semoga lainnya, dan, umur panjang semua hal-hal baik.
kembali aku ingatkan, punya harapan itu penting dan krusial sekali. semoga.

Komentar
Posting Komentar