Diary #1
source: cursed corner (instagram)
Langit terlalu biru pagi ini, pantulan terangnya matahari juga tercurahkan ke dinding-dinding ruko di-sekitaran kost tempat gue tinggal. Jujur, gue belum tidur dari pukul tiga dini hari. Sebab, gue sudah tertidur dua sampai tiga jam sebelumnya, lalu terbangun. Kebanyakan tidur mungkin jadi penyebabnya, perasaan sedang tidak secerah langit pagi ini namun masih ada-kan, harapan dan rasa semangat yang tertinggal di dalam hati?
Gue ingin sekali bebas-lega & keluar dari penjara perasaan gue sendiri. Namun apa daya, mungkin memang gue sedang harus mengalami perasaan seperti ini dalam beberapa waktu yang berlalu sampai ke depannya. Perasaan rapuh itu tidak enak, tapi gue tidak ingin membuat manusia lain terganggu, jadinya, gue hrus sebisa mungkin membuat dengan sekuat tenaga jika semua sedang baik-baik saja.
Pulang adalah kata yang tidak pasti, pulang kemana? Gue juga tidak tahu. Gue sudah tidak punya banyak lagi yang bisa diharapkan selain diri sendiri. Gue lelah berharap sama orang-orang, mungkin memang seharusnya gue tidak boleh berharap sama orang-orang selain diri gue sendiri, tapi, pada dasarnya gue seperti itu, sampai gue terlalu keras sama diri sendiri & akhirnya hancur lembur.
Maka dari itu gue seperti menata balok-balok itu dari semula seperti baru saja memulai, padahal tidak, gue sudah banyak memulai. Sayangnya, orang-orang yang kebetulan lewat ini, lalu, baru melihat yang terjadi & menilainya & menganggap sudah tahu semua padahal tidak. Itu semua membuat gue sedih se-sedih-sedihnya.
Gelisah minta ampun, lelah bukan main. Pikiran kosong juga melahap gue habis-habisan. Ok stop! Cukup sampai disana, tidak lagi untuk cerita harian yang sendu. Gue tahu, gue ingin lepas & lega dengan curcol seperti ini disini, tapi gue juga mau ada landasan lega yang tetapi juga memberi dampak positif untuk diri sendiri kali ini. Gue tidak ingin mengasihani diri sendiri & gue sedang tidak mengasihani diri sendiri saat ini, gue hanya sedang menghembuskan nafas... Semoga anda mengerti.
Ini bukan kebetulan ini takdir, gue masih percaya. Tapi bukan berarti gue harus menunggu dalam diam dan percaya, cara kerja gue tidak ingin seperti itu. Gue sedang meraba semuanya dalam gelap sehabis apa yang terjadi di masa lalu, bolehkah anda mendekap diri ini & memberi kenyamanan? Gue juga orang, tentunya bukan orang menurut teori filsafat Darwin, tapi gue menghargai beliau sebagai sosok pemberi dampak perubahan bagi dunia.
Semoga gue bisa bertahan sampai malam, lalu tidur lebih cepat & bangun lebih awal, merubah kebiasaan menjadi yang seharusnya. Tapi gue juga takut kalau gue tidur terlalu cepat maka bisa dipastikan gue akan bangun sekitaran pukul tiga dini hari. Apa ada yang melihat gue saat itu? Tapi kenapa sering? Entahlah, rahang gue bunyi-bunyi & kepala gue terasa berkabut & seperti terasa penuh, banyak pikiran nih...
Mother Earth, pakailah kekuatan dan mukjizat alam kamu untuk menenangkan hati gue dari kecemasan dan kegelisahan tidak berarti yang seperti tiada ujungnya. Produktif susah sekali diraih jika seperti ini. Gue tidak ingin dikasihani orang-orang, mereka tidak perlu tahu, karena mereka tahu-pun, mereka tidak membantu apa-apa yang ada hanya menimbulkan rasa kasihan.
Mereka juga tidak akan mengerti...
#phonediary

Komentar
Posting Komentar