September #throwback

// Titik dua dan bintang

source: google images

Perasaan yang aneh, pikiran yang seringkali tidak sinkron- tidak satu frekuensi membuat gue gelisah dan merasa cemas. Membuat gue merasa menyebalkan terhadap diri gue sendiri, Matahari siang hari yang terik, hawa gelora yang tak berudara, pengap. Entah harus bagaimana lagi, gue tidak ingin terselimuti perasaan beracun seperti ini.

Siang dan malam seperti auto-pilot. Gue bener ingin keluar dari penjaringan seperti ini. Zona yang ingin membuat gue seperti mati. 

Buku sudah banyak sekali gue geletakkan dan tidak dibaca seperti itu, penghinaan bagi para author, gue minta maaf. Gue ingin lepas tapi ini semua harus dilalui mungkin, proses. perasaan yang jenuh dan kosong sekarang-sekarang ini. Butuh istirahat dulu mungkin, seperti berada dalam suatu frekuensi yang sejuk dan hening. Yang bisa langsung mematikan toxic-toxic dalam diri.

Mungkin harus dimulai dari paling ujung, sadar yang tidak disadari. Dari awal sekali, yaitu dari pola hidup yang lebih baik lagi, pondasi-pondasi seperti itu yang mungkin gue butuhkan seharusnya. Jenuh super jenuh, auto-pilot ini menyiksa gue. Harus apa lagi? Terlalu ga baik memang. Karena radiasi-kah? Atau apa? 

Bulan yang berlalu, bukan hanya cuaca saja yang panas, tapi situasi negeri juga, oknum yang menyebalkan, perusak pondasi bangsa, cemen, bacot yang tidak ada habisnya, demo dimana-mana, pemerintah yang tidak asyik malah membuat negeri ini semakin aneh, negeri ini betulan lagi aneh, semua hal yang semestinya malah ditunggangi semena-mena dan malahan merasa benar.

Tak ada perasaan, kasihan mereka-mereka yang tak bersalah.

Bulan baru datang lagi. Gue berharap gue sembuh dari jeratan ini, cepat untuk bertemu tempat dan lingkungan yang semestinya gue ada disana, berkembang, bertumbuh dan menemukan Ikigai gue sendiri. Sehat-sehat dan sejahtera lahir batin, bagi gue dan keluarga kecil gue dan negeri ini cepat sembuh ya, mohonku untuk Sang Semesta, amin.. 

Komentar

Postingan Populer